Disusun
oleh:
Ester Romaito Malau (2192111001)
Kelas : Reguler D
PRODI S1 PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan
Yang Maha Esa yang telah memberikan kami kesempatan untuk menyelesaikan tugas
Mini Riset “ Menganalisis film freedom writer Karya Richard LaGravenese”, tepat
pada waktunya.
Selama proses penulisan
dan penyelesaian Mini Riset ini, kami banyak memperoleh bimbingan dan bantuan
dari berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan terimakasih kepada:
- Bapak
Dr. Samsul Arif M.Pd, Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,
- Ibu
Trisna Hutagalung, S.Pd, M.Pd, Sekretaris Jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia,
- Ibu
Fitriani Lubis, S.Pd, M.Pd, Ketua Prodi Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia,
- Bapak
Dr. Mohammad Joharis, M.Pd., sebagai dosen pengampu mata kuliah Menyimak
Apresiatif Menyimak Apresiatif dan
Kreatif,
- Bapak/Ibu
dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,
- teman-teman
yang telah mambantu kami dalam menyelesaikan tugas makalah ini ini
baik secara langsung maupun tidak
langsung, dan
- orang
tua kami yang telah membantu baik berupa dana maupun doa untuk mendukung
lancarnya penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari masih banyak kesalahan dalam
penulisan makalah ini, maka dari itu kami mengharapkan kritik serta saran yang
membangun dari pembaca. Semoga makalah ini
dapat menambah wawasan dan memberikan manfaat kepada kita semua.
Medan, Mei 2020
Ester Malau
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perkembangan
teknologi saat ini sangatlah pesat dan hal tersebut mendukung berkembangnya
komunikasi kearah yang lebih efektif. Komunikasi juga dapat dilakukan dengan
mudah dan cepat karena berkembangnya suatu teknologi mempengaruhi kemajuan
teknologi media dalam berkomunikasi. Komunikasi merupakan kebutuhan yang mutlak
bagi manusia, karena komunikasi adalah suatu hal yang sangat dibutuhkan untuk
mendapat maupun bertukar informasi. Karena selain sebagai makhluk individu kita
juga berperan penting sebagai makhluk sosial, dimana kita haruslah saling
berinteraksi antara satu dengan yang lain. Secara sederhana komunikasi dapat
diartikan sebagai proses mengalirnya pesan dari komunikator menuju komunikan
dengan berbagai hambatan tertentu.
Dahulu
komunikasi yang ada sangatlah minim, sebelum mengenal bahasa dan berbicara
komunikasi yang dilakukan yaitu melalui isyarat atau tanda-tanda serta lambang
yang dibuat manusia pada masa itu. Menurut Nasution, (1989) sekitar 500 tahun
SM Raja Persia Darius menempatkan prajuritnya disetiap puncak bukit lalu saling
berteriak satu sama lain, sehingga jarak 450 mil dapat diliput selama dua hari.
(Bungin, 2006:108).
Sekitar
300.000 s/d 200.000 tahun SM, barulah manusia mengenal bahasa. Namun
penggunanaan bahasa tersebut masih sangat sederhana, lalu selanjutnya sekitar
5.000 tahun SM manusia mulai memasuki abad dimana mereka mengenal tulisan. Hal
ini dirasa masih sangat kurang untuk mendapat informasi yang lebih. Karena
komunikasi itu sendiri tidak hanya tidak diperoleh dari sesama manusia saja
tetapi juga didapat dari media, atau dalam bidangnya lebih mengacu pada
komunikasi massa.
Komunikasi
massa merupakan komunikasi yang ditujukan kepada khalayak yang bersifat
heterogen dan anonim, yang penyebaranya melalui media massa. Baik media cetak
maupun media elektronik. Seiring dengan hal ini maka teknologi dalam bidang
komunikasipun berkembang pesat seperti saat ini, seperti adanya handphone,
televisi, internet, musik atau bahkan film. Hal tersebut dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan informasi, hiburan, serta pendidikan bagi umat manusia,
serta sebagai sarana penyampaian pesan yang lebih efektif.
Mendengar
kata film kita tentunya sudah dapat menerka dan memahami apa film itu. Secara
sederhana Film merupakan perpaduan antara Audio “Suara” dan Visual “Gambar”
yang didalamnya terdapat unsur cerita atau ide gagasan dari komunikator dan
isinya pun sangat beragam. Biasanya isi dari film itu sendiri tidak jauh dari
sebuah realita atau fenomena yang terjadi di dalam masyarakat.
Definisi
Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media
komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi
dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan
hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui
proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa
suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi
mekanik, eletronik, dan/atau lainnya. (Effendy, 2008:63).
Film
saat ini juga berkembang sangat pesat sehingga mampu melahirkan berbagai macam
genre film, diantaranya: Animasi, Drama, Dokumenter, Horor,
Trhiller/Pembunuhan, Misteri, Aksi, War/Peperangan dan Scifi. Di Indonesia
sendiri muncul satu genre film yang popular dan banyak digemari, yaitu film
dengan genre Horor Komedi. Film genre ini merajai pasar industry perfilman di
Indonesia karena isi yang disajikan banyak berisi adegan-adegan sensual, bahkan
tak tanggung-tanggung sutradara film itu sendiri berani membayar mahal beberapa
bintang film panas dari luar negeri hanya untuk berakting memperlihatkan
kemolekan tubuhnya. Bukannya takut dan ngeri saat melihat film genre ini, namun
penonton akan terangsang nafsu seksualnya.
Dalam
hal ini mereka para sutradara atau pembuat film tidak memperhatikan
kaidah-kaidah positif, seperti isi pesan yang ada dalam film tersebut. Film
Horor Komedi itu sendiri sebenarnya bukan satu genre tertentu, film genre ini
dibentuk berdasarkan kepentingan seperti bisnis dan keuntungan pribadi pembuat
film. Bagi penikmat film yang pasif, mereka akan sangat senag dengan kehadiran
film ini dan sama sekali tidak memperhitungkan baik dan buruknya film genre
ini. Yang mereka butuhkan hanyalah kepuasan nafsu setelah menonton film ini,
hasrat keingin tahuan akan para bintang film panas semakin tinggi. Akan tetapi
bagi para penikmat film yang aktif dan kritis, film genre ini tidak memiliki
tanggung jawab sosial dan moral. Semakin mempercacat insan perfilman di negeri
ini.
Film
merupakan media yang paling mudah dan cepat jika digunakan untuk menyampaikan
suatu pesan atau bahkan informasi bagi khalayak. Karena film juga merupakan
media yang sangat menarik dan menghibur, serta mudah dipahami oleh kita semua.
Selain itu film juga memiliki efek yang mempengaruhi penontonnya, baik itu
dalam hal yang positif maupun hal yang negative tergantung isi pesan dan cerita
yang terdapat dalam film tersebut.
Pesan
adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan seharusnya
mempunyai inti pesan (tema) sebagai pengarah dalam usaha mencoba mengubah sikap
dan tingkah laku komunikan. (Widjaja, 1997). Pesan (message) terdiri dari dua aspek, yakni isi atau isi pesan (the
content of message) dan lambang (symbol) untuk mengekspresikannya. Lambang
utama dalam film disini berupa gambar dan suara. (Effendy, 2000:313).
Pesan
dalam film biasanya menggambarkan kejadian atau fenomena yang berada disekitar
kita, seperti peperangan, kisah cinta, pembunuhan, kejahatan mafia dan banyak
lagi yang lainnya. Film yang bagus adalah film yang memiliki isi pesan yang
mampu di jadikan inspirasi oleh para penikmat film, sebuah film bisa dikatakan
berkualitas jika tema dan isi pesannya mengandung makna yang positif dan
bersifat kuat. Sehingga mampu mempengaruhi para penonton, mampu menggugah
nurani dari audience. Kemudian film itu akan selalu melekat di kepala
masyarakat luas, bukan sekedar terhibur dari apa yang mereka lihat.
Di
Indonesia sendiri sebenarnya dunia perfilman sudah berkembang pesat, namun
sayang dari sekian banyak film yang sudah diproduksi hanya beberapa film yang
mengandung pesan yang positif. Sisanya merupakan film yang dibuat berdasarkan
kepentingan serta keuntungan pribadi, seperti film drama cinta dikalangan
remaja, seperti FTV.
Kemudian
film horror komedi (mesum) yang ceritanya monoton, seperti “Suster Keramas,
Diperkosa Setan dan sebagainya”. Efek yang ditimbulkan dari film ini adalah
suatu tindakan imitasi yang buruk, karena kebanyakan masyarakat kita masih
pasif dalam menerima pesan-pesan dari apa yang mereka lihat. Mau tidak mau kita
sebagai penonton harus lebih aktif dan kritis, harus pandai dalam memilih film
yang akan kita tonton. Beberapa hal di atas sedikit memberikan kita gambaran
tentang film, berangkat dari penjelasan diatas peneliti berkeinginan meneliti
sebuah film yang bermuatan positif serta mengetahui lebih dalam lagi isi pesan
yang disampaikan.
Berangkat
dari penjelasan tadi, peneliti memilih film karya Richard LaGravenese yang
berjudul “Freedom Writers”.
Diterbitkan oleh Broadway pada tahun 1999, The
Freedom Writers Diary adalah kisah nyata guru bahasa Inggris bernama Erin
Gruwell, yang bertugas mengajar di Long Beach, California. Film ini juga
mendapat penghargaan sebagai “A Truly
Moving Picture” (kategori film kisah nyata) dalam Festival Film Heartland
tahun 2006 di Indianapolis.
Film
ini mengusung tema pendidikan, yang menggambarkan kisah nyata seorang guru yang
mendidik dan memperhatikan muridnya melebihi guru lainnya. Bahkan ia (Erin
Gruwell) rela mengkorbankan rumah tangganya, demi kepentingan orang banyak.
Seorang guru yang inspiratif dan patut ditiru dikalangan pendidikan dan
kalangan umum. Ia berusaha menghapuskan rasisme dari benak para murid-muridnya
dengan berbagai cara, agar nantinya para murid bisa melakukan sesuatu yang
berguna daripada saling bunuh antar ras.
Rasisme
bukanlah perkara yang sepele, “Rasisme”
berarti suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan
biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau
individu, bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk
mengatur yang lainnya. Sedangkan pengertian “Ras”
itu sendiri yaitu golongan bangsa berdasarkan ciri- ciri fisik, seperti
warna kulit, warna rambut, ukuran tubuh dan warna mata.
Abad
ke 20 yang baru saja kita lalui merupakan abad kegelapan, dimana banyak dari
umat manusia dibelahan dunia disiksa, di aniaya, terlantar tanpa rumah. Semua
itu terjadi tanpa tujuan apapun selain membela ideology yang menyimpang, salah
satunya adalah rasisme itu sendiri. Hampir setiap waktu dan tempat lahir
seorang pemimpin yang kejam, dictator dan memiliki ideology yang menyimpang.
Mereka adalah Stalin, Lenin, Trotsky, Mao Tse Tung, Hittler, Musolin dan
sebagainya. Beberapa orang tadi merupakan potret buruk dari gambaran seorang
pemimpin yang membenarkan sebuah ideology sesat, dimana ideology mereka
berangkat dari teori Darwin atau biasa disebut Darwinisme.
Dalam
bukunya Harun Yahya yang berjudul “Bencana
Kemanusiaan Akibat Darwinisme” bahwa Teori Darwinisme itu berbunyi “yang
kuat akan bertahan hidup, sedangkan yang lainnya kalah dan musnah”. Berangkat
dari pemahaman ini banyak dari orang-orang yang salah memahami kemudian
membenarkan suatu paham rasisme, fasisme dan kolonialisme, yang akhirnya
ditanamkan kepada anak cucunya hingga sekarang.
Di
Indonesia sendiri masalah rasisme juga tak jarang terjadi, keberadaan etnik
Tionghoa di Indonesia tak pernah lepas dari kontroversi. Sejarah mencatat
setidaknya ada lima peristiwa tragis yang mendera kaum Tionghoa. Yaitu Geger
Pecinan pada tahun 1740, tragedy 1965, Malari 1974, Geger Pecinan di Solo dan
Semarang tahun 1981, dan kerusuhan pada tahun 1998 di Jakarta dan Solo.
Eksistensi orang tionghoa selalu dihadapkan pada stereotip buruk oleh warga
pribumi, seperti anggapan bahwa orang tionghoa hidup eksklusif dengan social
tertutup, berorientasi keduniawian, dan enggan bergaul dengan warga disekitanya
terutama dengan warga pribumi. Pandangan itu masih tetap hidup dibenak warga
pribumi hingga saat ini.
Berangkat
dari latar belakang diatas, peneliti merumuskan sebuah judul Pesan Anti Rasisme
Dalam Film (Analisis Isi Pada Film Freedom
Writers Karya Richard LaGravenese). Dengan menggunakan metode analisis isi,
peneliti ingin mengetahui pesan Anti Rasisme yang terdapat dalam Film Freedom
Writers. Hasil dari penelitian ini nantinya diharapkan mampu member gambaran
pada kita semua, bahwa rasisme haruslah di hilangkan dari benak kita. Agar
tidak terulang hal buruk yang pernah terjadi dimasa lampau, kemudian yang baik
bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi kita.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut: Apa analisis dalam Film “Freedom Writers”
Karya Richard LaGravenese?
C.
Tujuan Penelitian
Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis dalam film “Freedom Writers”
Karya Richard LaGravenese.
D.
Kegunaan Penelitian
D.1 Kegunaan
Praktis
Penelitian
ini diharapkan mampu menjadi manfaat bagi masyarakat pecinta film dalam
menerima dan memahami pesan-pesan positif yang ada dalam film khusunya pesan
anti rasiasme, serta menerapkan isi pesan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Diharapkan juga mampu menjadi referensi bagi insan perfilman, dalam membuat
suatu karya seni khususnya film, sehingga mampu menghasilkan film yang memiliki
pesan kuat yang mendidik.
D. 2 Kegunaan
Akademis
Hasil
Penelitian ini diharapkan mampu memotivasi dan meberi referensi bagi peneliti
lain, untuk lebih mengembangkan dan memperluas berbagai penelitian analisis isi
di masa yang akan datang. Adanya pesan-pesan positif yang terdapat dalam film ini terutama pesan
anti rasisme, dapat kita jadikan inspirasi, rujukan serta motivasi dalam
memproduksi film bagi para pemula. Agar terlahir film-film yang berkualitas
sehingga bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat, tanpa adanya efek yang
negatif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Komunikasi Massa
Dalam
komunikasi massa, media massa itu sendiri yang memiliki ciri khas, yakni
berkemampuan memikat perhatian khlayak secara serempak (simultaneous) dan serentak
(instantaeous) yaitu pers, radio, televisi dan film. (Effendy, 2000:313).
Film itu sendiri merupakan hasil perkembangan terkini dari teknologi dan juga
salah satu bentuk komunikasi massa, karena sifatnya yang mampu menjangkau khalayak
masyarakat secara luas. Kemampuan film sebagai alat media komunikasi massa,
adalah hasil dari perkembangan teknologi komunikasi yang mampu memvisualkan
pesan dan gambar dengan yang mampu menjangkau wilayah masyarakat di mana pun.
Ada
banyak definisi tentang komunikasi yang telah dikemukakan para ahli, khususnya
ahli komunikasi. Hingga kini ada sekitar ratusan definisi komunikasi.
Seringkali suatu definisi komunikasi berbeda atau bahkan bertentangan dengan
definisi lainya. Menurut Harold Lasswel. Cara yang baik untuk menggambarkan
komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With
What Effect? ( Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan
Pengaruh Apa?). Sedangkan menurut Everett M. Rogers. Komunikasi adalah proses
dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan
maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.(Winarni. 2003:2-3). Komunikasi
sebagai suatu proses sebab-akibat atau reaksi yang arahnya bergantian Dimana
seorang menyampaikan pesan (baik verbal atau non verbal) dan seorang penerima
bereaksi dengan memberikan jawaban verbal atau non verbal. Kemudian orang
pertama bereaksi terhadap respon atau umpan balik dari orang kedua, dan
seterusnya.(Winarni. 2003:3).
Secara
umum komunikasi massa sebenarnya adalah suatu proses yang menggambarkan
bagaimana komunikator secara professional menggunakan teknologi pembagi (media)
dalam menyebarluaskan pengalamannya yang melampui jarak untuk mempengaruhi
khalayak dalam jumlah yang banyak. Menurut Severin (1977), Tan (1981) dan
Wright (1986). Komunikasi Massa adalah bentuk komunikasi yang merupakan
penggunaan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dengan komunikan
secara missal, berjumlah banyak bertempat tinggal yang jauh, sangat heterogen,
dan menimbulkan efek tertentu. (Winarni. 2003:8). Komunikasi Massa yang
mengandalkan media massa memiliki fungsi utama, yaitu menjadi proses
penyampaian pesan kepada masyarakat luas. Komunikasi massa memungkinkan
informasi dari intuisi publik tersampaikan kepada masyarakat luas dalam waktu
cepat sehingga fungsi informatif tercapai dalam waktu yang cepat dan singkat.
(Bungin. 2006:80).
Adapun
ciri-ciri komunikasi massa (Nurudin, 2007:19-35) sebagai berikut:
1.
Komunikator dalam Komunikasi Massa Melembaga
Komunikator
disini tidak hanya satu orang saja, namun kumpulan orang yang tergabung dari
berbagai unsur dan kemudian bekerja sama antara satu dengan yang lainya melalui
suatu lembaga.
2.
Komunikan bersifat Heterogen
Jika
kita melihat suatu film, kita tahu bahwa film itu sendiri bukan hanya kita atau
perorangan yang bias menontonya. Melainkan seluruh komunikan yang tersebar di
berbagai daerah, bahkan di seluruh dunia yang menikmati film tersebut. Karena
hal inilah mengapa komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen, artinya
komunikan disini adalah orang banyak dan bermacam-macam dan bukan perorangan.
3. Pesannya bersifat Umum
Seperti
yang kita tahu, karena komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen maka
pesan yang disampaikan juga bersifat umum. Dengan kata lain pesan yang
disampaikan disini tidak menyangkut golongan tertentu.
4.
Komunikasinya Berlangsung Satu Arah
Ketika kita
sedang membaca majalah, koran atau buku, maka komunikasi yang terjadi disitu
hanya satu arah, yakni dari media massa kepada kita. Berbeda lagi saat kita
melakukan komunikasi tatap muka, dengan seorang teman misalnya. Saat kita
mengajaknya berbicara kemudian dia membalasnya dengan umpan balik, dari kita ke
teman begitu juga sebaliknya.
5.
Komunikasi Massa Menimbulkan Keserempakan
Di
dalam komunikasi massa terdapat keserempakan dalam penyebaran pesanya, artinya
khalayak disini hamper bersamaan di dalam menerima pesan dari media tersebut.
6.Komunikasi
Massa Mengandalkan Peralatan Teknis
Media
Massa disini merupakan alat yang utama dalam penyampaian pesan yang ada, akan
tetapi tetap didukung dengan peralatan teknis atau lebih mengacu pada media
elektronik.
Kajian
tentang media dapat dilakukan dari dua dimensi komunikasi massa. Dimensi pertama disebut juga dimensi
mikro, dapat menjelaskan hubungan antara media dengan audience, audience dalam
pengertian individual maupun kelompok. Teori-teori mengenai hubungan antara
media dengan audience, menekankan adanya komunikasi massa pada individu dan
kelompok sebagai hasil interaksi dengan media.
Dimensi kedua disebut
sebagai kajian dimensi makro, dimana kajian ini memandang dari sisi pengaruh
media kepada masyarakat luas beserta intuisi- intuisinya. Dimensi ini
menjelaskan keterkaitan antara media dengan berbagai intuisi lain di masyarakat
seoerti politik, budaya, social, ekonomi, pendidikan, agama, dan sebagainya.
Kemudian mengkaji posisi atau kedudukan media dalam masyarakat, dimana keduanya
saling mempengaruhi satu dengan lainya.(Bungin, 2006:256).
B.
Film Sebagai Bentuk Media Komunikasi Massa
Media
dalam komunikasi massa dibagi menjadi dua, yaitu media cetak dan elektronika.
Media cetak terdiri dari surat kabar, majalah dan buku. Film merupakan salah
satu hasil dari perkembangan komunikasi massa, dalam hal ini film masuk pada
media elektronika bersama radio, televisi dan rekaman musik. Keberadaan film
sebagai media sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan social masyarakat,
karena di dalam film terdapat berbagai tema dan isi pesan yang ingin
disampaikan komunikator atau pembuat film kepada komunikator atau khalayak.
Pesan
dalam sebuah film sangat bermacam-macam tergantung pada komunikan tentang hal
apa yang ingi disampaikan, bisa berupa kritikan, propaganda, pesan tentang
moral, social, agama dan masih banyak lagi, sehingga bisa saja pesan itu
mempengaruhi dan mengubah suatu khalayak untuk menjadi lebih baik lagi. Adapun
teori efektivitas komunikator, Yang menyatakan bahwa, jika komunikator memiliki
tingkat dapat dipercaya (trustwoerthness)
dan keahlian (expertise) yang
tinggi, maka pesan-pesanya akan efektif. (Hamidi, 2006:23).
Pesan
merupakan hal yang paling penting selain komunikator dan komunikan, tanpa
adanya pesan atau informasi yang akan disampaikan maka suatu komunikasi
tersebut tidak akan mampu berjalan dengan semestinya. Dengan kata lain suatu
komunikasi itu akan terhambat karena tidak adanya pesan yang akan disampaikan.
Film itu sendiri merupakan media yang paling efektif dalam penyampaian
informasi kepada khalayak, karena disajikan dengan berbagai macam tema serta di
kemas dengan sangat menarik oleh pembuat film itu sendiri.
Film
juga memiliki segmentasi yang beragam, mulai dari anak-anak seperti film
kartun, animasi yang dikemas dengan tampilan dan cerita yang lucu. Kemudian remaja,
seperti film-film aksi, drama remaja. Bahkan film untuk kategori dewasa yang
biasanya bercerita tentang drama sebuah kemuarga dan masih banyak yang lainnya.
C.
Pemahaman Tentang Film
Mendengar
kata film kita pastinya sudah tidak asing lagi, film merupakan hasil perpaduan
dari beberapa unsur. Yaitu, gambar gerak atau visual, kemudian suara atau
audio, serta terdapat unsur pesan. Dari unsur-unsur tadi maka komunikator
mengolahnya sedemikian rupa dengan bantuan teknologi, hingga jadilah sebuah
film yang didalamnya mengandung pesan yang bisa dengan mudah dipahami atau
dicerna oleh khalayak. Film merupakan media yang efektif dalam komunikasi
massa. Bagaimana tidak, saat kita menonton film seolah-olah kita ikut masuk
kedalam suasana yang digambarkan dalam film tersebut. Saat adegan sedih kita
bisa saja ikut merasakan kesedihan, saat pemeran antagonis muncul bisa saja
kita ikut terpengaruh dan marah. Atau mungkin saat adegan lucu yang
ditampilkan, kita tertawa dengan keras dan begitu seterusnya.
Gambar
gerak pertama dihasilkan oleh tangkapan sebuah kamera yang ditemukan tahun 1888
di laboratorium milik Thomas Alfa Edison. Disusul tahun 1895 ditemukannya
proyektor oleh dua orang bersaudara Lumiere di paris. Di Amerika Serikat pada
tahun 1903 hadirnya film cerita pertama oleh Edwin.S Porter dibawah judul Great Train Robberty. Yang paling tenar
pada tahun 1917 ialah hadirnya film hiburan pertama yang dimainkan bintang film
tenar Charlie Chaplin menyusuk tahun 1939 hadir film Gone With The Wind. Semuanya berkembang bagi kaum elit hingga tahun
1948. (Winarni, 2003:37).
Definisi
Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media
komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi
dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan
hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui
proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa
suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi
mekanik, eletronik, dan/atau lainnya. (Effendy, 2008:63).
Definisi
lain mengatakan, Film adalah gambar hidup, juga sering disebut movie. Film,
secara kolektif, sering disebut sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata
kinematik atau gerak. Film juga sebenarnya merupakan lapisan-lapisan cairan
selulosa, biasa di kenal di dunia para sineas sebagai seluloid. Pengertian
secara harafiah film (sinema) adalah Cinemathographie yang berasal dari Cinema
+ tho =
phytos (cahaya) + graphie = grhap (tulisan = gambar = citra), jadi pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar
kita dapat melukis gerak dengan cahaya, kita harus menggunakan alat khusus,
yang biasa kita sebut dengan kamera. (http://ayonana.tumblr.com/
post/390644418/definisi-film) diakses pada (tgl 28-02-2011 pukul 00.30 WIB).
Di
Indonesia sendiri film pertamakali diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di
Batavia (Jakarta). Pada masa itu film disebut “Gambar Idoep”. Pertunjukkan film
pertama digelar di Tanah Abang. Film adalah sebuah film dokumenter yang
menggambarkan perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag. Pertunjukan pertama
ini kurang sukses karena harga karcisnya dianggap terlalu maha. Sehingga pada 1 Januari 1901, harga
karcis dikurangi hingga 75% untuk merangsang minat penonton. Film cerita
pertama kali dikenal di Indonesia pada tahun 1905 yang diimpor dari Amerika.
Film- film impor ini berubah judul ke dalam bahasa Melayu. Film cerita impor
ini cukup laku di Indonesia. Jumlah penonton dan bioskop pun meningkat. Daya
tarik tontonan baru ini ternyata mengagumkan. Film lokal pertama kali
diproduksi pada tahun 1926. Sebuah film cerita yang masih bisu. Agak terlambat
memang. Karena pada tahun tersebut, di belahan dunia yang lain, film-film
bersuara sudah mulai diproduksi.
Industri
film lokal sendiri baru bisa membuat film bersuara pada tahun 1931. Film ini
diproduksi oleh Tans Film Company bekerjasama dengan Kruegers Film Bedrif di
Bandung dengan judul Atma de Vischer. Selama kurun waktu itu (1926-1931)
sebanyak 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi. Jumlah bioskop meningkat
dengan pesat. Film rueve (majalah film pada masa itu) pada tahun 1936 mencatat
adanya 227 bioskop. Teknologi saat ini sangatlah jauh berbeda dengan dahulu,
dengan munculnya beberapa teknologi baru film sekarang lebih kreatif dan lebih
inovatif. Hal ini terbukti dengan munculnya film yang bertemakan animasi,
dengan efek yang lebih bagus dan cerita atau isi pesan yang sangat menarik
sehingga mampu memikat para khalayak. Adapun jenis-jenis film, (Heru Effendy,
2002:11-13) adalah sebagai berikut:
1. Film
Dokumenter (Documentary Film)
Dokumenter
adalah sebutan yang diberikan untuk film pertama karaya Lumiere bersaudara yang
berkisah tentang perjalanan (travelogues) yang dibuat sekitar tahun 1890-an.
Intinya film dokumenter berpijak pada hal-hal senyata mungkin. Kini documenter
menjadi sebuah tren tersendiri dalam perfilman dunia. Hal ini bisa dilihat dari
banyaknya film documenter yang bisa kita saksikan melalui saluran televisi
seperti program National Geographic dan
Animal Planet.
2.
Film Cerpen (Short Film)
Durasi
film cerita pendek biasanya di bawah 60 menit. Di banyak Negara seperti Jerman,
Australi, Kanada, dan Amerika Serikat, Film pendek biasanya dijadikan batu
loncatan bagi seseorang/sekelompok orang untuk kemudian memproduksi film cerita
panjang. Jenis film ini biasanya banyak dihasilkan oleh para mahasiswa jurusan
film atau orang/kelompok yang menyukai dunia film dan ingin berlatih membuat
film dengan baik.
3. Film Cerita Panjang
(Feature-Length Film)
Film
dengan durasi lebih dari 60 menit, lazimnya berdurasi 90-100 menit.
Film
yang diputar di bioskop pada umumnya termasuk dalam kelompok ini. Selain itu
ada juga beberapa genre film saat ini, yaitu:
4. Drama/Romance
Film
jenis ini lebih banyak bercerita tentang kisah cinta, dan tak jarang cerita
diambil dari kisah nyata sebuah kehidupan suatu keluarga. Biasanya segmentasi
film genre ini ditujukan kepada remaja dan dewasa.
5. Action/Aksi
Film aksi
kebanyakan menonjolkan aspek kekerasan didalamnya, seperti perkelahian, tembak
menembak, kriminalitas, dan bahkan mengangkat tentang perang.
6. Horor
Film
genre ini cukup digemari karena ceritanya yang menyeramkan sehingga mampu
membuat adrenalin para penonton naik turun. Biasanya cerita dalam film horror
mengangkat suatu misteri tentang adanya makhluk ghaib yang belm terpecahkan.
7.
Thriller
Film
ini berisi tentang pembunuhan, balas dendam, bahkan kisah tentang seorang
psikopat. Para penikmat film ini wajib berhati-hati dan lebih selektif dalam
memahami film jenis ini, karena jika penonton benar-benar terbawa maka bisa
saja film genre ini dijadikan contoh untuk diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari.
8.
Animasi/Kartun.
Film
jenis ini biasanya sangat digemari anak-anak, karena film ini dibuat dari
beberapa gambar gerak yang di buat sendiri oleh manusia sehingga ceritanya
menjadi lucu dan unik.
D.
Pesan
Film
sudah tentu memiliki tema dan di dalam tema tersebut pasti terselip pesan,
pesan itulah yang nantinya akan dicerna oleh penonton. Pesan adalah keseluruhan
dari apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan seharusnya mempunyai inti
pesan (tema) sebagai pengarah dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah
laku komunikan. (Widjaja, 1997). Pesan (message)
terdiri dari dua aspek, yakni isi atau
isi pesan (the content of message)
dan lambang (symbol) untuk mengekspresikannya. Lambang utama dalam film disini
berupa gambar dan suara. (Effendy, 2000:313). Pada dasarnya komunikasi itu
mempunyai 4 fungsi, yaitu: menginformasikan, mendidik, menghibur, mempengaruhi.
Sama seperti halnya sebuah film, di dalam film sebenarnya tidak hanya berfungsi
sebagai hiburan belaka, akan tetapi didalamnya menyimpan makna atau pesan
bahkan informasi yang terkandung serta ingin disampaikan kepada komunikan atau
khalayak.
1.
Fungsi Informasi
Suatu
film biasanya mengandung unsur informasi didalamnya, dimana informasi tersebut
sangat di butuhkan oleh khalayak.
2. Fungsi
Mendidik
Apabila
didalam film memuat suatu pesan yang mendidik tentunya akan sangat berguna bagi
kita sebagai khalayak untuk menjadi lebih baik lagi, sehingga bisa dijadikan
pelajaran untuk kehidupan yang akan datang.
3. Fungsi
Menghibur
Hiburan
disini dimaksudkan untuk melemaskan ketegangan pikiran kita, misalnya didalam
film tersebut diselingi dengan komedi setelah suatu adegan yang menegangkan
atau menyedihkan. Sehingga kita bias tertawa karena terhibur.
4. Fungsi
Mempengaruhi
Mempengaruhi
disini jika film itu memiliki pesan yang sangat kuat maka secara tidak langsung
kita sebagai khalayak akan terpengaruh oleh pesan yang ada pada film tersebut,
baik itu pesan yang mendidik atau bahkan malah pesan yang merusak.
Pesan
dalam sebuah film sangat bermacam-macam tergantung pada komunikan tentang hal
apa yang ingi disampaikan, bisa berupa kritikan, propaganda, pesan tentang
moral, social, agama dan masih banyak lagi, sehingga bisa saja pesan itu
mempengaruhi dan mengubah suatu khalayak untuk menjadi lebih baik lagi. Pesan
merupakan hal yang paling penting selain komunikator dan komunikan, tanpa
adanya pesan atau informasi yang akan disampaikan maka suatu komunikasi
tersebut tidak akan mampu berjalan dengan semestinya. Dengan kata lain suatu
komunikasi itu akan terhambat karena tidak adanya pesan yang akan disampaikan.
Apabila
di dalam film tersebut mengangkat tentang suatu pesan yang baik mengenai sosial
maka pesan tersebut tidak akan mudah dilupakan oleh khalayak, dalam film
“Freedon Writers” misalnya. Disini terdapat banyak sekali pesan yang yang ingin
disampaikan komunikator kepada komunikan atau khalayak, karena didalamnya
memuat pesan tentang anti rasisme. Tentunya hal ini bisa menjadi referensi atau
gambaran untuk kehidupan manusia di masa yang akan datang, bahwa rasisme harus
dihapuskan dari dunia ini, kapan saja dan dimana saja agar manusia dapat hidup
damai didalam perbedaan ras. Kemudian tidak ada lagi anggapan tentang salah
satu ras yang harus di unggulkan di masa yang akan datang. Hal ini bisa
benar-benar terjadi apabila komunikator tersebut benar- pandai mengolah pesan
dan pesan itu bisa dipertanggungjawabkan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian
Metode
yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah analisis isi. Alasan
menggunakan analisis isi karena akan memperoleh suatu hasil atau pemahaman
terhadap berbagai isi pesan komunikasi yang disampaikan oleh media massa secara
objektif dan sistematis. Seperti yang di jelaskan dalam (Nanang Martono,
2010:19), Analisi isi (content analysis)
merupakan tipe penelitian yang memanfaatkan informasi atau isi yang tertulis
sebagai sinbol- simbol material. Sumber data dalam penelitian ini dapat berupa
majalah, Koran, iklan, televisi atau media yang lain.
Analisis
isi dikategorikan dalam tipe penelitian non reaktif (nonreactive research) dikarenakan objek yang menjadi sasaran
penelitian tidak member reaksi atau pengaruh terhadap peneliti. Dengan
menggunakan analisis isi peneliti dapat membandingkan berbagai simbol di dalam
media atau teks tertentu dan menganalisanyanya dengan teknik kuantitatif.
Menurut Barelson, analisis isi merupakan teknik penelitian secara
objektif, sistematis dan menggambarkan secara kuantitatif mengenai isi media
komunikasi yang bersifat manifes. (Martono, 2010:19).
B.
Ruang Lingkup Penelitian
Yang
menjadi ruang lingkup penelitian ini adalah film “Freedom Writers” yang
difokuskan pada tiap scene yang berupa adegan dimana setiap scene akan diambil
dan kemudian dimasukan kedalm pesan moral berdasarkan kategorisasi yang ada.
Kategorisasi pesan anti rasisme dalam film ini adalah semua hal yang menyangkut
tentang Anti Rasisme dari, kebersamaan, dan tindakan.
C.
Unit Analisis
Unit
analisis yang digunakan adalah adegan dalam scene yang terdapat pada Film
“Freedom Writers” berupa adegan yang mengandung pesan anti rasisme. Yang dibagi
menjadi 3 kategorisasi, yaitu pesan anti rasisme melalui pendidikan, pesan anti
rasisme melalui kebersamaan antar ras, dan sifat anti rasisme.
D.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi
yang merupakan teknik pengumpulan data dengan menelaah catatan-catatan,
informasi sebagai sumber data. Kemudian pada praktiknya, untuk penelitian ini
dilakukan pemutaran film “Freedom Writers”.
BAB IV
HASIL PEMBAHASAN
A. Identitas Film
Judul
Film : Freedom Writers
Sutradara : Richard La Gravenese
Produksi : Paramount Pictures,
Tahun 2007
Penulis
Naskah : Richard La Gravenese
Pemeran : Hillary Swank, Dolores
Umbridge, Patrick Demsey, dll.
B. Sinopsis Film Freddom Writer
Freedom
Writers merupakan film yang diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang guru
di wilayah New Port Beach, Long Beach, California, Amerika Serikat dalam
membangkitkan kembali semangat anak-anak didiknya untuk belajar. Dikisahkan,
Erin Gruwel (diperankan oleh Hillary Swank), seorang wanita yang berpendidikan
tinggi, datang ke Woodrow Wilson High School sebagai guru Bahasa Inggris di
kelas 203, di mana terdapat beragam gank ras yang selalu mengelompok, seperti
ras kamboja, kulit hitam, latin, dan kulit putih, dan pada saat itu sedang
hangat diperbincangkan tentang isu rasisme.
Pada
awal kedatangan Erin, para murid sama sekali tidak tertarik dengan
kehadirannya. Kabanyakan dari mereka tidak senang terhadap orang berkulit putih. Mereka
menganggap bahwa Erin tidak mengerti apapun tentang kehidupan mereka yang
keras, kehidupan yang selalu berada di bawah bayang-bayang perang dan
kekerasan. Bagi mereka, kehidupan adalah bagaimana caranya mereka selamat dari
kekerasan.
Banyak
tantangan yang harus dihadapi oleh Erin, baik dari pihak sekolah yang rasis,
hingga pihak suami dan ayahnya. Diskriminasi yang dilakukan oleh pihak sekolah,
seperti pemisahan kelas, serta perbedaan fasilitas yang terlihat antara ras
kulit putih dan ras di luar itu membuat Erin miris. Agar diterima oleh
anak-anak didiknya, Erin mencari cara untuk melakukan pendekatan dan metode
pengajaran yang tepat. Namun, sejak Erin disibukkan dengan pendekatan terhadap
anak-anak didiknya dan bekerja paruh waktu, timbul masalah baru, ia diceraikan
oleh suaminya. Hingga pada akhirnya, ayahnya yang semula tidak mendukung,
berbalik mendukung pekerjaan Erin.
Erin
paham dengan kondisi anak-anak didiknya yang selalu berkelompok dengan ras
mereka masing-masing. Akhirnya, ia menemukan cara untuk “menjangkau” kehidupan
mereka dengan memberikan mereka buku, dan meminta mereka mengisinya dengan
jurnal harian. Bahkan, ketika sekolah mendiskriminasikan fasilitas buku, Erin
memberikan buku baru tentang kehidupan gank yang lekat dengan keseharian
mereka. Sejak membaca jurnal harian yang bercerita tentang kehidupan mereka
yang keras, Erin semakin bersemangat untuk mengubah kehidupan anak-anak
didiknya, serta menghapus batas tak terlihat yang secara budaya memisahkan
mereka dengan cara-cara yang mengagumkan. Untuk menambah motivasi belajar Erin
mendatangkan Mrs. Miep Gies, seorang wanita penolong Anne Frank, anak Yahudi
yang hidup pada zaman Hitler dan holocaust-nya. Ia mendatangkan Mrs. Miep Gies
untuk berbagi cerita kepada anak-anak didiknya tentang sebuah bencana yang
terjadi karena rasisme, serta usaha-usaha Erin lainnya yang mendapat tantangan
dari pihak-pihak sekolah.
Akhirnya,
keteguhan Erin dalam mendidik mereka berbuah hasil. Anak-anak tersebut, yang
semula benci satu sama lain Karena perbedaan ras, akhirnya menjadi berteman dan
menghapus sekat-sekat ras di antara mereka. Bahkan, ketika ada kasus penembakan
yang menimpa seorang kawan anak didiknya, ia mengajarkan tentang arti
kejujuran. Jurnal harian yang telah mereka tulis, diketik dan dikumpulkan
menjadi satu buku. Erin menamai kumpulan buku harian murid-muridnya dengan nama
The Freedom Writers Diary.
C. Inovasi Pendidikan dalam Film Freddom
Writers
1. Karakteristik Inovasi
Menurut
Everett M. Rogers, 1993: 14-16 (dalam Udin Syaefudin, 2008: 21-22) mengemukakan
karakteristik inovasi yang dapat mempengaruhi cepat atau lambatnya penerimaan
inovasi adalah keuntungan relatif, kompatibel, kompleksitas, triabilitas, dan
dapat diamati.
Keuntungan
relatif, yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya.
Dalam film Freedom Writers ini inovasi yang dilakukan oleh Erin Gruwell
memberikan keuntungan relatif yaitu, nilai siswa-siswa kelas 203 Woodrow Wilson
High School yang semula mendapatkan nilai F, pada akhirnya meningkat nilai para
siswanya menjadi B, dan hal terpenting dari inovasi yang dilakukan oleh Erin
Gruwell menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan memberi kepuasan bagi para siswanya.
Kompatibel
(compatibility) ialah tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai (values),
pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. Inovasi yang dilakukan Erin
Gruwell disesuaikan dengan pengalaman yang dialami oleh para siswanya, yaitu
tentang kekerasan rasis. Dalam proses pembelajarannya Erin memberiakn inovasi, misalnya
memutarkan video tentang kekerasan dan berkunjung ke museum dengan tujuan
siswanya faham bagaimana dampak dari kekerasan.
Kompleksitas
(complexity) ialah tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi
bagi penerima. Suatu inovasi yang mudah dimengerti dan mudah digunakan oleh
penerima akan cepat tersebar, sedangkan inovasi yang sukar dimengerti atau
sukar digunakan oleh penerima akanlambat proses penyebarannya. Inovasi yang
dilakukan oleh Erin sangat efektif diberikan pada siswanya, karena inovasinya
selalu mengaitkan dengan penyelesaian masalah kekerasan rasis, hal ini mudah
diterima oleh paras iswanya karena sesaui dengan kehidupan para siswanya
tersebut.
Trialabilitas
(trialability) ialah dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh penerima.
Suatu inovasi yang dicoba akan cepat diterima oleh masyarakat daripada inovasi
yang tidal dicoba lebih dahulu. Saat Erin memberikan buku mengenai kekerasan
rasis dan siswanya tertarik, maka pada semester musim panas Erin membekali
siswanya beberapa buku untuk dibacanya dengan harapan memberikan dampak positif
bagi siswanya.
Dapat
diamati (observability) ialah mudah tidaknya diamati suatu hasil inovasi. Hasil
inovasi yang dilakukan Erin terlihat dari suasana kelas yang tidak berkelompok
dengan rasnya saja, namun tidak lagi memandang ras dan saling bekerja sama.
2. Proses Inovasi
Pada
waktu awal mengajar sebagai guru bahasa Inggris di Wilson High School, yang
pertama kali Erin lakukan adalah mengobservasi ruang kelas Brian Gilbert
seorang guru yang mengajar bahasa Inggris junior. Ia melihat bahwa ruang kelas
junior tersebut sangat rapi, kursi-kursinya bagus. Ketika Erin masuk ruang 203
tempat ia mengajar, Erin melihat bahwa bangku-bangku siswanya sudah tua, banyak
sekali coretan di mejanya, tirai jendela juga sudah ada yang rusak. Jauh sekali
dengan ruang kelas junior. Setelah murid-muridnya masuk kelas, Erin melihat
bahwa murid-muridnya berkumpul sesuai dengan ras mereka masing-masing. Orang
negro berkumpul dengan orang negro, orang Kamboja berkumpul dengan orang Kamboja, dan begitu pula ras yang lain
berkumpul sesuai dengan warna kulitnya. Saat pertama kali mengajar itu pula
Erin melihat perkelahian antara Jamal dan Andre Brion. Erin sangat kaget
melihat peristiwa itu karena itu di luar dugaannya, tapi Erin tidak menyerah
setelah apa yang ia alami. Erin mengobservasi bagaimana situasi dan kondisi
muridnya. Erin berusaha mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi di antara
murid-muridnya tersebut agar ia bisa memperlakukan mereka dengan tepat sehingga
murid-muridnya yang nakal dan acuh dengan pendidikan itu bisa bersemangat
bersekolah.
Hari
kedua mengajar, Erin meredakan pertengkaran antara Jamal dan Gloria karena
Jamal usil mengambil tas Gloria. Erin juga melihat kerusuhan di sekolah tempat
ia mengajar. Ia melihat perkelahian antar suku atau ras. Antara Paco yang orang
Latin dengan Grant Rice yang orang berkulit hitam, antara Eva Benita yang orang
Latin dan Cindy Nigor yang orang Kamboja. Pada saat kerusuhan itu juga Erin
melihat bahwa salah satu muridnya ada yang membawa pistol. Erin mengobservasi
lagi bagaimana perkelahian antar ras itu terjadi.
Hari-hari
berikutnya, Erin menampilkan sesuatu yang berbeda yaitu melakukan berbagai
permainan agar sausana pembelajaran lebih menyenangkan, melihat video tentang
kekerasan melakukan kunjungan studi ke museum, dan mendatangkan Mrs. Miep Giep
sebagai pembicara untuk menjelaskan kekerasan yang terjadi pada kekuasaan
Hitler yang dituliskan dalam buku berjudul “The Diary of Anne Frank”.
Erin
mampu melakukan proses inovasi denagn baik. Siswa-siswa yang awalnya tidak mau
menerima Erin dan tidak mau belajar dan sulit untuk diatur karena selalu
berkelompok dengan rasnya pada akhirnya siswanya menerima Erin dan mulai
tertarik dengan kegiatan belajar mengajar.
3.
Strategi Inovasi
Udin
Syaefudin (2008: 63) menyebutkan ada empat macam strategi inovasi pendidikan,
yaitu: strategi fasilitatif, strategi pendidikan, strategi bujukan, dan
strategi paksaan. Strategi yang dilakukan Erin Gruwell selama ia mengajar
sebagi guru bahasa Inggris di Woodrow Wilson High School diantaranya sebagai
berikut.
a.
Strategi
Fasilitatif (Facilitative Strategies) Pelaksanaan strategi fasilitatif dalam
pembelajaran yang dilakukan Erin bertujuan untuk menyediakan fasilitas yang
diperlukan siswanya dengan maksud agar pembelajaran berjalan dengan mudah dan
lancar.
Hal ini
dilakukan dengan cara menyediakan buku-buku yang dijadikan referensi dalam
pembelajaran, meskipun ia harus bekerja paruh waktu untu mengumpulkan biaya
untuk membeli buku tersebut.
b.
Strategi
Pendidikan (Re-Educatif Strategies)
Pelaksanaan
strategi pendidikan dengan cara antara lain sebagai berikut.
1) Memahami karakteristik peserta didik.
2) Memilih metode pembelajaran yang tepat.
3) Memberikan motivasi kepada siswa.
4) Melakukan pendekatan, baik secara individu
maupun kelompok kepada para siswanya.
c.
Strategi
Bujukan (Persuative Strategies)
Erin selalu
memberi bujukan pada siswanya, misalnya ketika kakak Andre Dion masuk penjara,
dia menjadi putus asa dan menilai dirinya sendiri dengan nilai F. Erin membujuk
Andre agar dia bangkit lagi dan dia ingin melihat Andre akan lulus dengan nilai
yang baik.
d.
Strategi
Paksaan (Power Strategies)
Erin memaksa
anak didiknya untuk membaca buku “The Diary of Anne Frank” agar mereka tahu apa
yang terkandung dalam buku tersebut.
D. Analisis Film Freedom Writers pada Masing-masing
Bagian
Inovasi
di bidang pendidikan adalah usaha mengadakan perubahan dengan tujuan untuk
memperoleh hal yang lebih baik dalam bidang pendidikan, menurut Udin Syaefudin,
(2008: 8). Terkait dengan fim Freedom Writers, di bawah ini akan dikemukakan
beberapa inovasi pendidikan yang dilakukan oleh Erin Gruwell sebagai seorang
guru bahasa Inggris di Woodrow Wilson High School, Long Beach, California,
Amerika Serikat di kelas 203.
1. Bertukar Tempat Duduk
Melakukan
kegiatan pembelajaran dengan musik dan puisi kemudian memindahkan tempat duduk
siswa dengan perbatasan baru dengan tujuan untuk mengurangi kesenjangan
antar kelompok dan lebih mengenal satu sama lain. (disc I ’00.18.57 s.d.
‘00.21.50).
2. Dialog Bersama
Pada
saat Tito mengolok-olok Jamal yang berkulit hitam dengan menggambar karikatur
orang negro yang berbibir tebal. Saat itulah Erin ingat bahwa kejadian ini
pernah terjadi yaitu pada jaman Hitler, orang-orang membuat gambar karikatur
orang Yahudi yang berhidung sangat mancung dan besar. Erin mengajak dialog
murid-muridnya tentang holocaust dan geng paling bersejarah di dunia. Erin
berusaha menyadarkan mereka. Perhatian para siswa mulai terpusat dan hal
tersebut sangat menarik siswanya karena sesuai dengan kehidupan mereka . (disc
I ’00.26.17 s.d. ’00.28.58).
3. Line Game (permainan garis)
Erin
mengajak murid-muridnya untuk bermain permainan garis yaitu dibuat garis dengan
menggunakan isolasi, lalu Erin akan memberikan sejumlah pertanyaan. Jika
pertanyaan itu cocok dengan mereka, mereka harus maju ke garis berhadap-hadapan
dengan teman-temannya. Lalu mundur lagi untuk pertanyaan berikutnya. Tujuan
dari permainan ini adalah agar para murid saling mengenal, memandang satu sama
lain, mengakrabkan mereka. (disc I ‘00.39.30 s.d. ‘00.42.15).
4. Buku Jurnal Harian atau Catatan Harian
Erin
memberi siswanya sebuah buku untuk diisi dengan lagu, puisi, hal baik, maupun
hal buruk. Apapun yang ingin mereka ungkapan ditulis dalam buku tersebut. Pada
intinya, Erin memerintahkan siswanya agar menulis buku harian. Hal ini
merupakan tindakan yang dilakukan Erin untuk lebih mengenal siswa-siswanya dan
dapat memberi tindakan lanjut terhadap para siswanya. (disc I ‘00.43.36 s.d. ‘00.45.15)
5. Memberi Buku Bacaan tentang Geng dan
Kekerasan
Setelah
membaca semua buku harian para siswanya yang rata-rata menceritakan tentang
geng dan kekerasan, timbul ide Erin untuk memberikan mereka buku bacaan tentang
anggota geng dan kekerasan. Erin memberikan buku yang berjudul Burango Street,
dan para siswa tertarik untuk membaca buku tersebut. (disc I ‘00.53.34 s.d.
‘00.53.59).
6. Study Tour ke Museum of Tolerance
Setelah
mengamati siswa-siswanya Erin berpikir bahwa siswa-siswanya tersebut haus akan
ilmu pengetahuan yang ada di dunia luar. Oleh karena itu, Erin meminta ijin
untuk mengajak para muridnya tour keliling museum. Erin ingin menyadarkan
mereka bahwa apa yang terjadi diantara mereka belum sepadan dengan penderitaan
yang dialami oleh orang yang hidup pada jaman kekuasaan Hitler seperti Anne
Frank. Tour keliling museum ini memberikan dampak positif bagi para siswa Erin.
Setelah tour keliling museum, Erin mempertemukan para siswanya dengan korban
holocaust. Semua yang dilakukan Erin ini tidak akan dilupakan oleh para muridnya.
Tujuan Erin melakukan ini adalah agar muridnya bisa bersatu dan lulus dengan
nilai yang memuaskan. Seusai Tour dan berbincang-bincang dengan korban
holocaust, perilaku murid Erin sedikit demi sedikit berubah. Mereka menjadi
akrab satu sama lain. Seperti Marcus yang berkulit hitam dan Ben yang berkulit
putih. (disc II ‘00.00.19 s.d. ‘00.03.56).
7. Toast for Change
Pada
awal memasuki semester baru, siswa diajak untuk menceritakan pengalamnnya, dan
melakukan perubahan terhadap diri masing-masing kemudian bersulang atas
perubahan yang akan mereka lakukan. Setelah mereka bersulang dilanjutkan dengan
mengambil bingkisan yang berisi empat buku yang akan dibaca para siswa untuk
satu semester ke depan di musim panas, yang salah satu dari buku itu berjudul
“The Diary of Anne Frank”. Pada waktu memberikan buku itu, Erin memberikan
sedikit pesan atau nasihat untuk para siswanya bahwa ada harapan yang menanti
di masa depan dan jangan menyerah dengan kondisi yang terjadi. (disc II
‘00.06.29 s.d. ‘00.07.10).
8. Taste for Change dan Concert for Change
Setelah
semua siswa membaca buku berjudul “The Diary of Anne Frank”, siswa
diperintahkan menulis surat untuk Miep Gies yang merupakan orang yang menolong
Anne Frank. Siswa tertarik dan mereka bekerjasama mengumpulkan dana untuk
mengundang Miep Giess ke sekolahnya untuk menceritakan kejadian yang terjadi
pada jaman kekuasaan Hitler tersebut. (disc II ‘00.17.17 s.d. ‘00.17.55).
9. Melihat Video Freedom Ride
Siswa
Melihat video freedom ride yang berkisah tentang seorang kulit putih yang rela
menyelamatkan ras kulit hitam meskipun harus merelakan dirinya disiksa sampai
hampir meninggal. Dengan melihat video ini diharapkan siswa saling menghargai
satu sama lain. (disc II ‘00.21.10 s.d. ‘00.21.50).
10.
Kumpulan Buku Harian “The Freedom Writers Diary”
Buku
harian yang telah mereka tulis, diketik dan dikumpulkan menjadi satu buku. Erin
menamai kumpulan buku harian siswa-siswanya dengan nama The Freedom Writers
Diary. Pada akhirnya mereka menjadi kelas yang kompak dan para siswanya saling
mengenal satu sama lain. Semua yang telah dilakukan Erin cukup mengubah
perilaku siswa-siswanya. (disc II ‘00.32.28 s.d. ‘00.33.07).
E. Hal-hal Positif yang Dapat Diambil dari
Film Freedom Writers
Film
Freedom Writers ini sangat cocok dijadikan sumber rujukan untuk menambah
wawasan tentang dunia pendidikan, baik untuk para pendidik maupun peserta
didiknya. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari film ini, terutama
bagaiman tokoh Erin Gruwell sebagai seorang guru bahasa Inggris yang harus
berjuang keras balam memberikan pembelajaran kepada siswanya, dimana mereka
yang terbiasa dengan kekerasan dan selalu hidup berkelompok dengan
masing-masing rasnya.
Beberapa
hal yang dapat diambil dari film Freedom Writers.
a.
Sebagai
seorang guru, harus mampu memahami karakteristik peserta didik sebelum
berlangsung kegiatan pembelajaran. Dengan mengenali karakteristik peserta
didik, guru dapat menentukan metode atau cara yang tepat untuk diterapkan dalam
pembelajaran agar dapat tercapai tujuan yang diharapkan.
b.
Sebagai
seorang guru, diperlukan adanya tekat dan semangat yang tinggi untuk melakukan
kegiatan belajar mengajar. Guru tidak boleh mudah putus asa ketika satu cara
yang telah diterapkan mengalami kegagalan, guru harus pandai dan terampil dalam
menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
c.
Berbagai
cara dapat digunakan guru untuk menarik perhatian siswa-siswanya, diantaranya
dengan memberikan motivasi, menciptakan permainan yang dapat membuat
pembelajaran lebih menyenangkan.
F. Pesan Anti
Rasisme Dalam Film
Film
merupakan media yang sangat menghibur bagi khalayak, selain itu dalam film juga
terdapat berbagai unsur. Salah satunya adanya unsure pesan, dengan adanya pesan
ini maka film akan semakin mudah dipahami oleh penontonnya. Pesan Anti Rasisme
dimaksudkan disini merupakan pesan yang terkandung pada beberapa scene dalam
film Freedom Writers, karena peneliti menilai adanya pesan anti rasisme yang
ada dalam film tersebut. Pesan anti rasisme merupakan suatu sikap dan tindakan
yang menentang dan menolak rasisme, yakni stereotip buruk tentang ras lain.
Karena dengan adanya rasisme ini akan sangat membahayakan diri sendiri dan
orang lain, rasisme sendiri berpotensi tumbuh dan berkembang di benak siapapun.
Inilah yang menjadi masalah sosial dimanapun hingga sekarang.
Sikap
individu terhadap lingkungan sosialnya dapat berupa penolakan, penerimaan, dan
sikap netral terhadap lingkungan. Individu menolak lingkungan bila ia merasakan
tidak adanya kesesuaian dengan keadaan lingkungannya. Individu dapat memberikan
bentuk pada lingkungan sesuai dengan apa yang ia harapkan asalkan itu berdampak
positif. Contohnya dalam kehidupan bermasyarakat, kadang kala orang tidak
sesuai atau tidak cocok dengan norma-norma yang ada dalam lingkungannya, maka
seseorang dapat memberikan pengaruh pada lingkungan tersebut. Namun hal
tersebut bukanlah hal yang mudah dan salah satu faktor yang akan ikut
menentukan berhasil tidaknya usaha itu adalah status atau posisi individu yang
bersangkutan.
Individu
menerima lingkungan bila keadaan lingkungan sesuai atau cocok dengan keadaan
individu. Dengan demikian ia akan menerima keadaan lingkungan tersebut.
Sedangkan individu akan bersikap netral terhadap lingkungannya apabila ia tidak
cocok dengan lingkungannya namun tidak mengambil langkah bagaimana semestinya.
Individu bersikap diam dan berpendapat biarlah lingkungan yang dalam keadaan
tersebut.
Dalam
film Freedom Writers ini digambarkan 4 macam ras, yang sesuai dengan apa yang
di jelaskan menurut Thomas Well dalam Alo Liliweri Prasangka dan Konflik. Kempat ras itu meliputi:
1. Warga kulit putih atau White Anglo
Saxon Protestant
Warga
kulit putih atau White Anglo Saxon Protestant adalah sebuah tradisi atau bahkan
bisa disebut ideologi tentang siapa yang seharusnya menjadi penguasa Amerika
Serikat. Pada awalnya tradisi ini diperkenalkan oleh orang-orang Inggris yang
merasa dirinya superior. Karena merekalah yang pertama masuk ke Amerika Serikat
dan Membangun Amerika dengan pengetahuan dan ketrampilan tertentu dengan orientasi
kerja dalam berbagai bidang ekonomi dan politik. Keyakinan tersebut juga
didorong oleh moralitas agama protestan yang diasumsikan sebagai agama yang
paling kuat mendorong orang bekerja lebih produktif.
Warga
kulit putih cenderung tidak disukai atau dianggap tidak baik oleh berbagai ras
yang ada karena perbuatan mereka pada jaman dahulu hingga sekarang. Menurut
Killian warga kulit hitam diketahui memiliki prasangka buruk kepada warga kulit
putih dikarenakan perlakuan warga kulit putih pada jaman perbudakan Amerika
Selatan terhadap warga kulit hitam. Selain itu ras kulit putih di awal
kedatangannya melakukan tindakan yang biadab dengan melakukan pembantaian
terhadarp warga asli Amerika yakni Suku Indian.
2 Warga kulit hitam atau Africans-Americans
Warga
kulit hitam adalah kelompok etnik pertama dari benua Afrika yang dijadikan
budak oleh orang-orang Spanyol dalam eksplorasi ke dunia baru Amerika, sejak
tahun 1619 sampai akhir abad ke-18. Jumlah warga kulit hitam di AS diperkirakan
10 juta orang yang tinggal di bagian barat benua masalah umum yang dihadapi
warga kulit hitam adalah pendapatan mereka yang rendah, kemiskinan, dan
diskriminasi oleh orang-orang kulit putih di berbagai sendi kehidupan sosial.
Warga
kulit hitam seringkali tidak disukai atau dianggap negatif oleh warga kulit
putih karena mereka dulu menjadi budak warga kulit putih. namun seiring dengan
kemajuan jaman, keberadaan warga kulit hitam juga terus maju. Dengan munculnya
berbagai pertentangan, serta pembuktian. Akhirnya warga kulit hitam menjadi ras
menampik stereotip miring tentang mereka. Hal tersebut dianggap sebagai
keaadaan yang mengancam warga kulit putih.
3.
Warga Asia yang tinggal di Amerika atau Asian-Americans
Adalah
warga Asia yang tinggal di Amerika atau yang biasa disebut Asian-Americans.
Mereka adalah orang Amerika dengan subkultur Asia. Jumlah waraga
Asian-Americans adalah sekitar 4% dari warga Amerika. Mayoritas dari mereka
berasal dari Cina dan Jepang, di samping imigran dari Filipina, Korea, Kamboja
dan yang terakhir dari Vietnam.
Warga
Amerika-Asia kurang disukai keberadaannya, karena sejak pertama kali datang ke
Amerika kedatangan mereka dianggap merusak standar buruh yang ada. Warga dari
ras lain sering menganggap warga Amerika-Asia sebagai orang-orang yang serakah.
Bahkan di Amerika sempat memiliki peraturan yang melarang kedatangan warga Asia
ke Amerika. Selain itu warga Asia adalah sesosok warga yang rajin, ulet dan
pekerja keras. Sehingga banyak diantara mereka yang menjadi kaya dan menguasai
beberapa sector perekonomian, hal inilah yang menjadikan warga Asia disisihkan
di Amerika.
4. Warga Hispanic-Americans
Merupakan
warga Meksiko, Puerto Rico dan Cuba. Jumlah keturunan Amerika Hispanik
diperkirakan mencapai 12% dari penduduk AS. Prosentase ini cenderung meningkat
karena imigrasi dan tingkat kelahiran yang tinggi.
Warga
Amerika-Hispanik dimusuhi keberadaanya oleh berbagai ras di Amerika karena
keberadaan mereka yang seringkali menyebabkan keresahan karena tindakan anarkis
yang mereka lakukan pada masa lalu di Los Angeles. Serta berbagai macam tindak
pidana, seperti penjualan obat- obatan terlarang, imigran gelap.
Keempat
ras tadi digambarkan saling bertindak rasis dalam film Freedom Writers ini,
hingga muncul seorang sosok guru yang bersikap netral. Ia bernama Erin Gruwell,
seorang guru dari warga kulit putih yang memiliki pandangan berbeda. Dimana
orang-orang disekitarnya mendukung dan cenderung bersikap rasis terhadap ras
lain, namun tidak dengan Erin. Ia lebih memandang semua manusia sama dan berhak
mendapat perlakuan yang sama, tidak dipandang dari warna kulit ataupun ras
mereka. Sikap dan tindakan anti rasisme nya inilah yang nantinya akan di
turunkan kepada para murid dan orang lain.
Peneliti
melihat adanya pesan anti rasisme yang digambarkan dalam beberapa scene, yakni
melalui pendidikan, setelah mendapat pendidikan dari berbagai cara akhirnya
para murid mulai mengubah sikapnya sedikit demi sedikit. Mengubah tindakan
serta pemikiran mereka yang sebelumnya saling acuh dengan teman mereka yang
berbeda ras dengan dirinya, kemudian menjadi akrab dan bisa menerima perbedaan
diantara mereka.
Film
sudah tentu memiliki tema dan di dalam tema tersebut pasti terselip pesan,
pesan itulah yang nantinya akan dicerna oleh penonton. Pesan adalah keseluruhan
dari apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan merupakan sesuatu yang
dihayati oleh komunikan melalui komunikator, diterima dalam artian dijadikan
milik bersama di antarany keduanya. Dengan tujuan kesejahteraan bersama dalam
kehidupan yang lebih baik serta bisa dipertanggung jawabkan.
Berlo menyebutkan
bahwa proses meyakini pesan merupakan proses menghubungkan antara harapan dan
manfaat. Sesuatu yang diusulkan dapat diterima apabila komunikan ada harapan
memperoleh manfaat atau dalam istilah aslinya Expectation of reward. Manfaat
tersebut baik dalam arti positif maupun negative. Dalam arti positif ialah
memperoleh sesuatu, sedangkan dalam arti negative kemungkinan untuk menghindari
sesuatu (Astrid, 1977:11)
BAB V
PENUTUP
Film
merupakan media yang paling mudah dan cepat jika digunakan untuk menyampaikan
suatu pesan atau bahkan informasi bagi khalayak. Karena film juga merupakan
media yang sangat menarik dan menghibur, serta mudah dipahami oleh kita semua.
Film
ini mengusung tema pendidikan, yang menggambarkan kisah nyata seorang guru yang
mendidik dan memperhatikan muridnya melebihi guru lainnya. Bahkan ia (Erin
Gruwell) rela mengkorbankan rumah tangganya, demi kepentingan orang banyak.
Seorang guru yang inspiratif dan patut ditiru dikalangan pendidikan dan kalangan
umum. Ia berusaha menghapuskan rasisme dari benak para murid-muridnya dengan
berbagai cara, agar nantinya para murid bisa melakukan sesuatu yang berguna
daripada saling bunuh antar ras.
Rasisme
bukanlah perkara yang sepele, “Rasisme”
berarti suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan
biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau
individu, bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk
mengatur yang lainnya. Sedangkan pengertian “Ras”
itu sendiri yaitu golongan bangsa berdasarkan ciri- ciri fisik, seperti
warna kulit, warna rambut, ukuran tubuh dan warna mata.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, I. S. (2013). Pendidikan Multikultural Dalam Film Freedom Writers. Yogyakarta:
UIN Sunan Kalijaga.Al-Yamin, S. (2012). Pendidikan
Anti Kekerasan.
http://www.riaupos.co/1389-opini-pendidikan-anti-kekerasan.html. 30 Agustus
2018.Amini. (2015). Profesi Keguruan.
Medan : Perdana Publishing.
Pratista, H. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian
Pustaka.
Sumarno, M. (1996. Dasar-dasar Apresiasi Film. Jakarta: PT.Grasindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar