Kamis, 04 Juni 2020

MINIRISET MENYIMAK ESTER MALAU REGULER D 2019





 Menganalisis Film Freedom Writer Sebagai  Apresiasi Karya Sastra Untuk Meningkatan Keterampilan Menyimak Apresiatif dan Kreatif
Disusun oleh:
Ester Romaito Malau     (2192111001)
Kelas   : Reguler D

PRODI S1 PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
Mei, 2020






KATA PENGANTAR



Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kami kesempatan untuk menyelesaikan tugas Mini Riset “ Menganalisis film freedom writer Karya Richard LaGravenese”, tepat pada waktunya.
Selama proses penulisan dan penyelesaian Mini Riset ini, kami banyak memperoleh bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan terimakasih kepada:
  1. Bapak Dr. Samsul Arif M.Pd, Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,
  2. Ibu Trisna Hutagalung, S.Pd, M.Pd, Sekretaris Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,
  3. Ibu Fitriani Lubis, S.Pd, M.Pd, Ketua Prodi Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia,
  4. Bapak Dr. Mohammad Joharis, M.Pd., sebagai dosen pengampu mata kuliah Menyimak Apresiatif Menyimak Apresiatif dan Kreatif,
  5. Bapak/Ibu dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,
  6. teman-teman yang telah mambantu kami dalam menyelesaikan tugas makalah ini ini baik  secara langsung maupun tidak langsung, dan
  7. orang tua kami yang telah membantu baik berupa dana maupun doa untuk mendukung lancarnya penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari masih banyak kesalahan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu kami mengharapkan kritik serta saran yang membangun dari pembaca. Semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan memberikan manfaat kepada kita semua.
              
Medan, Mei 2020



Ester Malau



DAFTAR ISI





BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang


Perkembangan teknologi saat ini sangatlah pesat dan hal tersebut mendukung berkembangnya komunikasi kearah yang lebih efektif. Komunikasi juga dapat dilakukan dengan mudah dan cepat karena berkembangnya suatu teknologi mempengaruhi kemajuan teknologi media dalam berkomunikasi. Komunikasi merupakan kebutuhan yang mutlak bagi manusia, karena komunikasi adalah suatu hal yang sangat dibutuhkan untuk mendapat maupun bertukar informasi. Karena selain sebagai makhluk individu kita juga berperan penting sebagai makhluk sosial, dimana kita haruslah saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Secara sederhana komunikasi dapat diartikan sebagai proses mengalirnya pesan dari komunikator menuju komunikan dengan berbagai hambatan tertentu.
Dahulu komunikasi yang ada sangatlah minim, sebelum mengenal bahasa dan berbicara komunikasi yang dilakukan yaitu melalui isyarat atau tanda-tanda serta lambang yang dibuat manusia pada masa itu. Menurut Nasution, (1989) sekitar 500 tahun SM Raja Persia Darius menempatkan prajuritnya disetiap puncak bukit lalu saling berteriak satu sama lain, sehingga jarak 450 mil dapat diliput selama dua hari. (Bungin, 2006:108).
Sekitar 300.000 s/d 200.000 tahun SM, barulah manusia mengenal bahasa. Namun penggunanaan bahasa tersebut masih sangat sederhana, lalu selanjutnya sekitar 5.000 tahun SM manusia mulai memasuki abad dimana mereka mengenal tulisan. Hal ini dirasa masih sangat kurang untuk mendapat informasi yang lebih. Karena komunikasi itu sendiri tidak hanya tidak diperoleh dari sesama manusia saja tetapi juga didapat dari media, atau dalam bidangnya lebih mengacu pada komunikasi massa.
Komunikasi massa merupakan komunikasi yang ditujukan kepada khalayak yang bersifat heterogen dan anonim, yang penyebaranya melalui media massa. Baik media cetak maupun media elektronik. Seiring dengan hal ini maka teknologi dalam bidang komunikasipun berkembang pesat seperti saat ini, seperti adanya handphone, televisi, internet, musik atau bahkan film. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan informasi, hiburan, serta pendidikan bagi umat manusia, serta sebagai sarana penyampaian pesan yang lebih efektif.
Mendengar kata film kita tentunya sudah dapat menerka dan memahami apa film itu. Secara sederhana Film merupakan perpaduan antara Audio “Suara” dan Visual “Gambar” yang didalamnya terdapat unsur cerita atau ide gagasan dari komunikator dan isinya pun sangat beragam. Biasanya isi dari film itu sendiri tidak jauh dari sebuah realita atau fenomena yang terjadi di dalam masyarakat.
Definisi Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau lainnya. (Effendy, 2008:63).
Film saat ini juga berkembang sangat pesat sehingga mampu melahirkan berbagai macam genre film, diantaranya: Animasi, Drama, Dokumenter, Horor, Trhiller/Pembunuhan, Misteri, Aksi, War/Peperangan dan Scifi. Di Indonesia sendiri muncul satu genre film yang popular dan banyak digemari, yaitu film dengan genre Horor Komedi. Film genre ini merajai pasar industry perfilman di Indonesia karena isi yang disajikan banyak berisi adegan-adegan sensual, bahkan tak tanggung-tanggung sutradara film itu sendiri berani membayar mahal beberapa bintang film panas dari luar negeri hanya untuk berakting memperlihatkan kemolekan tubuhnya. Bukannya takut dan ngeri saat melihat film genre ini, namun penonton akan terangsang nafsu seksualnya.
Dalam hal ini mereka para sutradara atau pembuat film tidak memperhatikan kaidah-kaidah positif, seperti isi pesan yang ada dalam film tersebut. Film Horor Komedi itu sendiri sebenarnya bukan satu genre tertentu, film genre ini dibentuk berdasarkan kepentingan seperti bisnis dan keuntungan pribadi pembuat film. Bagi penikmat film yang pasif, mereka akan sangat senag dengan kehadiran film ini dan sama sekali tidak memperhitungkan baik dan buruknya film genre ini. Yang mereka butuhkan hanyalah kepuasan nafsu setelah menonton film ini, hasrat keingin tahuan akan para bintang film panas semakin tinggi. Akan tetapi bagi para penikmat film yang aktif dan kritis, film genre ini tidak memiliki tanggung jawab sosial dan moral. Semakin mempercacat insan perfilman di negeri ini.

Film merupakan media yang paling mudah dan cepat jika digunakan untuk menyampaikan suatu pesan atau bahkan informasi bagi khalayak. Karena film juga merupakan media yang sangat menarik dan menghibur, serta mudah dipahami oleh kita semua. Selain itu film juga memiliki efek yang mempengaruhi penontonnya, baik itu dalam hal yang positif maupun hal yang negative tergantung isi pesan dan cerita yang terdapat dalam film tersebut.
Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan seharusnya mempunyai inti pesan (tema) sebagai pengarah dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. (Widjaja, 1997). Pesan (message) terdiri dari dua aspek, yakni isi atau isi pesan (the content of message) dan lambang (symbol) untuk mengekspresikannya. Lambang utama dalam film disini berupa gambar dan suara. (Effendy, 2000:313).
Pesan dalam film biasanya menggambarkan kejadian atau fenomena yang berada disekitar kita, seperti peperangan, kisah cinta, pembunuhan, kejahatan mafia dan banyak lagi yang lainnya. Film yang bagus adalah film yang memiliki isi pesan yang mampu di jadikan inspirasi oleh para penikmat film, sebuah film bisa dikatakan berkualitas jika tema dan isi pesannya mengandung makna yang positif dan bersifat kuat. Sehingga mampu mempengaruhi para penonton, mampu menggugah nurani dari audience. Kemudian film itu akan selalu melekat di kepala masyarakat luas, bukan sekedar terhibur dari apa yang mereka lihat.
Di Indonesia sendiri sebenarnya dunia perfilman sudah berkembang pesat, namun sayang dari sekian banyak film yang sudah diproduksi hanya beberapa film yang mengandung pesan yang positif. Sisanya merupakan film yang dibuat berdasarkan kepentingan serta keuntungan pribadi, seperti film drama cinta dikalangan remaja, seperti FTV.
Kemudian film horror komedi (mesum) yang ceritanya monoton, seperti “Suster Keramas, Diperkosa Setan dan sebagainya”. Efek yang ditimbulkan dari film ini adalah suatu tindakan imitasi yang buruk, karena kebanyakan masyarakat kita masih pasif dalam menerima pesan-pesan dari apa yang mereka lihat. Mau tidak mau kita sebagai penonton harus lebih aktif dan kritis, harus pandai dalam memilih film yang akan kita tonton. Beberapa hal di atas sedikit memberikan kita gambaran tentang film, berangkat dari penjelasan diatas peneliti berkeinginan meneliti sebuah film yang bermuatan positif serta mengetahui lebih dalam lagi isi pesan yang disampaikan.
Berangkat dari penjelasan tadi, peneliti memilih film karya Richard LaGravenese yang berjudul “Freedom Writers”. Diterbitkan oleh Broadway pada tahun 1999, The Freedom Writers Diary adalah kisah nyata guru bahasa Inggris bernama Erin Gruwell, yang bertugas mengajar di Long Beach, California. Film ini juga mendapat penghargaan sebagai “A Truly Moving Picture” (kategori film kisah nyata) dalam Festival Film Heartland tahun 2006 di Indianapolis.
Film ini mengusung tema pendidikan, yang menggambarkan kisah nyata seorang guru yang mendidik dan memperhatikan muridnya melebihi guru lainnya. Bahkan ia (Erin Gruwell) rela mengkorbankan rumah tangganya, demi kepentingan orang banyak. Seorang guru yang inspiratif dan patut ditiru dikalangan pendidikan dan kalangan umum. Ia berusaha menghapuskan rasisme dari benak para murid-muridnya dengan berbagai cara, agar nantinya para murid bisa melakukan sesuatu yang berguna daripada saling bunuh antar ras.
Rasisme bukanlah perkara yang sepele, “Rasisme” berarti suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu, bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur yang lainnya. Sedangkan pengertian “Ras” itu sendiri yaitu golongan bangsa berdasarkan ciri- ciri fisik, seperti warna kulit, warna rambut, ukuran tubuh dan warna mata.
Abad ke 20 yang baru saja kita lalui merupakan abad kegelapan, dimana banyak dari umat manusia dibelahan dunia disiksa, di aniaya, terlantar tanpa rumah. Semua itu terjadi tanpa tujuan apapun selain membela ideology yang menyimpang, salah satunya adalah rasisme itu sendiri. Hampir setiap waktu dan tempat lahir seorang pemimpin yang kejam, dictator dan memiliki ideology yang menyimpang. Mereka adalah Stalin, Lenin, Trotsky, Mao Tse Tung, Hittler, Musolin dan sebagainya. Beberapa orang tadi merupakan potret buruk dari gambaran seorang pemimpin yang membenarkan sebuah ideology sesat, dimana ideology mereka berangkat dari teori Darwin atau biasa disebut Darwinisme.
Dalam bukunya Harun Yahya yang berjudul “Bencana Kemanusiaan Akibat Darwinisme” bahwa Teori Darwinisme itu berbunyi “yang kuat akan bertahan hidup, sedangkan yang lainnya kalah dan musnah”. Berangkat dari pemahaman ini banyak dari orang-orang yang salah memahami kemudian membenarkan suatu paham rasisme, fasisme dan kolonialisme, yang akhirnya ditanamkan kepada anak cucunya hingga sekarang.

Di Indonesia sendiri masalah rasisme juga tak jarang terjadi, keberadaan etnik Tionghoa di Indonesia tak pernah lepas dari kontroversi. Sejarah mencatat setidaknya ada lima peristiwa tragis yang mendera kaum Tionghoa. Yaitu Geger Pecinan pada tahun 1740, tragedy 1965, Malari 1974, Geger Pecinan di Solo dan Semarang tahun 1981, dan kerusuhan pada tahun 1998 di Jakarta dan Solo. Eksistensi orang tionghoa selalu dihadapkan pada stereotip buruk oleh warga pribumi, seperti anggapan bahwa orang tionghoa hidup eksklusif dengan social tertutup, berorientasi keduniawian, dan enggan bergaul dengan warga disekitanya terutama dengan warga pribumi. Pandangan itu masih tetap hidup dibenak warga pribumi hingga saat ini.
Berangkat dari latar belakang diatas, peneliti merumuskan sebuah judul Pesan Anti Rasisme Dalam Film (Analisis Isi Pada Film Freedom Writers Karya Richard LaGravenese). Dengan menggunakan metode analisis isi, peneliti ingin mengetahui pesan Anti Rasisme yang terdapat dalam Film Freedom Writers. Hasil dari penelitian ini nantinya diharapkan mampu member gambaran pada kita semua, bahwa rasisme haruslah di hilangkan dari benak kita. Agar tidak terulang hal buruk yang pernah terjadi dimasa lampau, kemudian yang baik bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi kita.


B. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut:  Apa analisis dalam Film “Freedom Writers” Karya Richard LaGravenese?

C. Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis dalam film “Freedom Writers” Karya Richard LaGravenese.

D. Kegunaan Penelitian


D.1 Kegunaan Praktis

Penelitian ini diharapkan mampu menjadi manfaat bagi masyarakat pecinta film dalam menerima dan memahami pesan-pesan positif yang ada dalam film khusunya pesan anti rasiasme, serta menerapkan isi pesan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan juga mampu menjadi referensi bagi insan perfilman, dalam membuat suatu karya seni khususnya film, sehingga mampu menghasilkan film yang memiliki pesan kuat yang mendidik.
D. 2 Kegunaan Akademis

Hasil Penelitian ini diharapkan mampu memotivasi dan meberi referensi bagi peneliti lain, untuk lebih mengembangkan dan memperluas berbagai penelitian analisis isi di masa yang akan datang. Adanya pesan-pesan positif  yang terdapat dalam film ini terutama pesan anti rasisme, dapat kita jadikan inspirasi, rujukan serta motivasi dalam memproduksi film bagi para pemula. Agar terlahir film-film yang berkualitas sehingga bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat, tanpa adanya efek yang negatif.


























 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Komunikasi Massa


Dalam komunikasi massa, media massa itu sendiri yang memiliki ciri khas, yakni berkemampuan memikat perhatian khlayak secara serempak (simultaneous) dan serentak (instantaeous) yaitu pers, radio, televisi dan film. (Effendy, 2000:313). Film itu sendiri merupakan hasil perkembangan terkini dari teknologi dan juga salah satu bentuk komunikasi massa, karena sifatnya yang mampu menjangkau khalayak masyarakat secara luas. Kemampuan film sebagai alat media komunikasi massa, adalah hasil dari perkembangan teknologi komunikasi yang mampu memvisualkan pesan dan gambar dengan yang mampu menjangkau wilayah masyarakat di mana pun.
Ada banyak definisi tentang komunikasi yang telah dikemukakan para ahli, khususnya ahli komunikasi. Hingga kini ada sekitar ratusan definisi komunikasi. Seringkali suatu definisi komunikasi berbeda atau bahkan bertentangan dengan definisi lainya. Menurut Harold Lasswel. Cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? ( Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Apa?). Sedangkan menurut Everett M. Rogers. Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.(Winarni. 2003:2-3). Komunikasi sebagai suatu proses sebab-akibat atau reaksi yang arahnya bergantian Dimana seorang menyampaikan pesan (baik verbal atau non verbal) dan seorang penerima bereaksi dengan memberikan jawaban verbal atau non verbal. Kemudian orang pertama bereaksi terhadap respon atau umpan balik dari orang kedua, dan seterusnya.(Winarni. 2003:3).
Secara umum komunikasi massa sebenarnya adalah suatu proses yang menggambarkan bagaimana komunikator secara professional menggunakan teknologi pembagi (media) dalam menyebarluaskan pengalamannya yang melampui jarak untuk mempengaruhi khalayak dalam jumlah yang banyak. Menurut Severin (1977), Tan (1981) dan Wright (1986). Komunikasi Massa adalah bentuk komunikasi yang merupakan penggunaan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dengan komunikan secara missal, berjumlah banyak bertempat tinggal yang jauh, sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu. (Winarni. 2003:8). Komunikasi Massa yang mengandalkan media massa memiliki fungsi utama, yaitu menjadi proses penyampaian pesan kepada masyarakat luas. Komunikasi massa memungkinkan informasi dari intuisi publik tersampaikan kepada masyarakat luas dalam waktu cepat sehingga fungsi informatif tercapai dalam waktu yang cepat dan singkat. (Bungin. 2006:80).
Adapun ciri-ciri komunikasi massa (Nurudin, 2007:19-35) sebagai berikut:

1. Komunikator dalam Komunikasi Massa Melembaga

Komunikator disini tidak hanya satu orang saja, namun kumpulan orang yang tergabung dari berbagai unsur dan kemudian bekerja sama antara satu dengan yang lainya melalui suatu lembaga.
2. Komunikan bersifat Heterogen

Jika kita melihat suatu film, kita tahu bahwa film itu sendiri bukan hanya kita atau perorangan yang bias menontonya. Melainkan seluruh komunikan yang tersebar di berbagai daerah, bahkan di seluruh dunia yang menikmati film tersebut. Karena hal inilah mengapa komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen, artinya komunikan disini adalah orang banyak dan bermacam-macam dan bukan perorangan.
3. Pesannya bersifat Umum

Seperti yang kita tahu, karena komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen maka pesan yang disampaikan juga bersifat umum. Dengan kata lain pesan yang disampaikan disini tidak menyangkut golongan tertentu.
4. Komunikasinya Berlangsung Satu Arah

Ketika kita sedang membaca majalah, koran atau buku, maka komunikasi yang terjadi disitu hanya satu arah, yakni dari media massa kepada kita. Berbeda lagi saat kita melakukan komunikasi tatap muka, dengan seorang teman misalnya. Saat kita mengajaknya berbicara kemudian dia membalasnya dengan umpan balik, dari kita ke teman begitu juga sebaliknya.
5. Komunikasi Massa Menimbulkan Keserempakan

Di dalam komunikasi massa terdapat keserempakan dalam penyebaran pesanya, artinya khalayak disini hamper bersamaan di dalam menerima pesan dari media tersebut.
6.Komunikasi Massa Mengandalkan Peralatan Teknis

Media Massa disini merupakan alat yang utama dalam penyampaian pesan yang ada, akan tetapi tetap didukung dengan peralatan teknis atau lebih mengacu pada media elektronik.
Kajian tentang media dapat dilakukan dari dua dimensi komunikasi massa. Dimensi pertama disebut juga dimensi mikro, dapat menjelaskan hubungan antara media dengan audience, audience dalam pengertian individual maupun kelompok. Teori-teori mengenai hubungan antara media dengan audience, menekankan adanya komunikasi massa pada individu dan kelompok sebagai hasil interaksi dengan media.
Dimensi kedua disebut sebagai kajian dimensi makro, dimana kajian ini memandang dari sisi pengaruh media kepada masyarakat luas beserta intuisi- intuisinya. Dimensi ini menjelaskan keterkaitan antara media dengan berbagai intuisi lain di masyarakat seoerti politik, budaya, social, ekonomi, pendidikan, agama, dan sebagainya. Kemudian mengkaji posisi atau kedudukan media dalam masyarakat, dimana keduanya saling mempengaruhi satu dengan lainya.(Bungin, 2006:256).

B. Film Sebagai Bentuk Media Komunikasi Massa

 

Media dalam komunikasi massa dibagi menjadi dua, yaitu media cetak dan elektronika. Media cetak terdiri dari surat kabar, majalah dan buku. Film merupakan salah satu hasil dari perkembangan komunikasi massa, dalam hal ini film masuk pada media elektronika bersama radio, televisi dan rekaman musik. Keberadaan film sebagai media sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan social masyarakat, karena di dalam film terdapat berbagai tema dan isi pesan yang ingin disampaikan komunikator atau pembuat film kepada komunikator atau khalayak.
Pesan dalam sebuah film sangat bermacam-macam tergantung pada komunikan tentang hal apa yang ingi disampaikan, bisa berupa kritikan, propaganda, pesan tentang moral, social, agama dan masih banyak lagi, sehingga bisa saja pesan itu mempengaruhi dan mengubah suatu khalayak untuk menjadi lebih baik lagi. Adapun teori efektivitas komunikator, Yang menyatakan bahwa, jika komunikator memiliki tingkat dapat dipercaya (trustwoerthness) dan keahlian (expertise) yang tinggi, maka pesan-pesanya akan efektif. (Hamidi, 2006:23).
Pesan merupakan hal yang paling penting selain komunikator dan komunikan, tanpa adanya pesan atau informasi yang akan disampaikan maka suatu komunikasi tersebut tidak akan mampu berjalan dengan semestinya. Dengan kata lain suatu komunikasi itu akan terhambat karena tidak adanya pesan yang akan disampaikan. Film itu sendiri merupakan media yang paling efektif dalam penyampaian informasi kepada khalayak, karena disajikan dengan berbagai macam tema serta di kemas dengan sangat menarik oleh pembuat film itu sendiri.
Film juga memiliki segmentasi yang beragam, mulai dari anak-anak seperti film kartun, animasi yang dikemas dengan tampilan dan cerita yang lucu. Kemudian remaja, seperti film-film aksi, drama remaja. Bahkan film untuk kategori dewasa yang biasanya bercerita tentang drama sebuah kemuarga dan masih banyak yang lainnya.

C. Pemahaman Tentang Film


Mendengar kata film kita pastinya sudah tidak asing lagi, film merupakan hasil perpaduan dari beberapa unsur. Yaitu, gambar gerak atau visual, kemudian suara atau audio, serta terdapat unsur pesan. Dari unsur-unsur tadi maka komunikator mengolahnya sedemikian rupa dengan bantuan teknologi, hingga jadilah sebuah film yang didalamnya mengandung pesan yang bisa dengan mudah dipahami atau dicerna oleh khalayak. Film merupakan media yang efektif dalam komunikasi massa. Bagaimana tidak, saat kita menonton film seolah-olah kita ikut masuk kedalam suasana yang digambarkan dalam film tersebut. Saat adegan sedih kita bisa saja ikut merasakan kesedihan, saat pemeran antagonis muncul bisa saja kita ikut terpengaruh dan marah. Atau mungkin saat adegan lucu yang ditampilkan, kita tertawa dengan keras dan begitu seterusnya.
Gambar gerak pertama dihasilkan oleh tangkapan sebuah kamera yang ditemukan tahun 1888 di laboratorium milik Thomas Alfa Edison. Disusul tahun 1895 ditemukannya proyektor oleh dua orang bersaudara Lumiere di paris. Di Amerika Serikat pada tahun 1903 hadirnya film cerita pertama oleh Edwin.S Porter dibawah judul Great Train Robberty. Yang paling tenar pada tahun 1917 ialah hadirnya film hiburan pertama yang dimainkan bintang film tenar Charlie Chaplin menyusuk tahun 1939 hadir film Gone With The Wind. Semuanya berkembang bagi kaum elit hingga tahun 1948. (Winarni, 2003:37).
Definisi Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau lainnya. (Effendy, 2008:63).
Definisi lain mengatakan, Film adalah gambar hidup, juga sering disebut movie. Film, secara kolektif, sering disebut sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau gerak. Film juga sebenarnya merupakan lapisan-lapisan cairan selulosa, biasa di kenal di dunia para sineas sebagai seluloid. Pengertian secara harafiah film (sinema) adalah Cinemathographie yang berasal dari Cinema
+ tho = phytos (cahaya) + graphie = grhap (tulisan = gambar = citra), jadi pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar kita dapat melukis gerak dengan cahaya, kita harus menggunakan alat khusus, yang biasa kita sebut dengan kamera. (http://ayonana.tumblr.com/ post/390644418/definisi-film) diakses pada (tgl 28-02-2011 pukul 00.30 WIB).
Di Indonesia sendiri film pertamakali diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia (Jakarta). Pada masa itu film disebut “Gambar Idoep”. Pertunjukkan film pertama digelar di Tanah Abang. Film adalah sebuah film dokumenter yang menggambarkan perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag. Pertunjukan pertama ini kurang sukses karena harga karcisnya dianggap terlalu maha. Sehingga pada 1 Januari 1901, harga karcis dikurangi hingga 75% untuk merangsang minat penonton. Film cerita pertama kali dikenal di Indonesia pada tahun 1905 yang diimpor dari Amerika. Film- film impor ini berubah judul ke dalam bahasa Melayu. Film cerita impor ini cukup laku di Indonesia. Jumlah penonton dan bioskop pun meningkat. Daya tarik tontonan baru ini ternyata mengagumkan. Film lokal pertama kali diproduksi pada tahun 1926. Sebuah film cerita yang masih bisu. Agak terlambat memang. Karena pada tahun tersebut, di belahan dunia yang lain, film-film bersuara sudah mulai diproduksi.
Industri film lokal sendiri baru bisa membuat film bersuara pada tahun 1931. Film ini diproduksi oleh Tans Film Company bekerjasama dengan Kruegers Film Bedrif di Bandung dengan judul Atma de Vischer. Selama kurun waktu itu (1926-1931) sebanyak 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi. Jumlah bioskop meningkat dengan pesat. Film rueve (majalah film pada masa itu) pada tahun 1936 mencatat adanya 227 bioskop. Teknologi saat ini sangatlah jauh berbeda dengan dahulu, dengan munculnya beberapa teknologi baru film sekarang lebih kreatif dan lebih inovatif. Hal ini terbukti dengan munculnya film yang bertemakan animasi, dengan efek yang lebih bagus dan cerita atau isi pesan yang sangat menarik sehingga mampu memikat para khalayak. Adapun jenis-jenis film, (Heru Effendy, 2002:11-13) adalah sebagai berikut:

1. Film Dokumenter (Documentary Film)

Dokumenter adalah sebutan yang diberikan untuk film pertama karaya Lumiere bersaudara yang berkisah tentang perjalanan (travelogues) yang dibuat sekitar tahun 1890-an. Intinya film dokumenter berpijak pada hal-hal senyata mungkin. Kini documenter menjadi sebuah tren tersendiri dalam perfilman dunia. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya film documenter yang bisa kita saksikan melalui saluran televisi seperti program National Geographic dan Animal Planet.
2. Film Cerpen (Short Film)

Durasi film cerita pendek biasanya di bawah 60 menit. Di banyak Negara seperti Jerman, Australi, Kanada, dan Amerika Serikat, Film pendek biasanya dijadikan batu loncatan bagi seseorang/sekelompok orang untuk kemudian memproduksi film cerita panjang. Jenis film ini biasanya banyak dihasilkan oleh para mahasiswa jurusan film atau orang/kelompok yang menyukai dunia film dan ingin berlatih membuat film dengan baik.
3. Film Cerita Panjang (Feature-Length Film)

Film dengan durasi lebih dari 60 menit, lazimnya berdurasi 90-100 menit.

Film yang diputar di bioskop pada umumnya termasuk dalam kelompok ini. Selain itu ada juga beberapa genre film saat ini, yaitu:
4. Drama/Romance

Film jenis ini lebih banyak bercerita tentang kisah cinta, dan tak jarang cerita diambil dari kisah nyata sebuah kehidupan suatu keluarga. Biasanya segmentasi film genre ini ditujukan kepada remaja dan dewasa.
5. Action/Aksi

Film aksi kebanyakan menonjolkan aspek kekerasan didalamnya, seperti perkelahian, tembak menembak, kriminalitas, dan bahkan mengangkat tentang perang.
6. Horor

Film genre ini cukup digemari karena ceritanya yang menyeramkan sehingga mampu membuat adrenalin para penonton naik turun. Biasanya cerita dalam film horror mengangkat suatu misteri tentang adanya makhluk ghaib yang belm terpecahkan.
7. Thriller

Film ini berisi tentang pembunuhan, balas dendam, bahkan kisah tentang seorang psikopat. Para penikmat film ini wajib berhati-hati dan lebih selektif dalam memahami film jenis ini, karena jika penonton benar-benar terbawa maka bisa saja film genre ini dijadikan contoh untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
8. Animasi/Kartun.

Film jenis ini biasanya sangat digemari anak-anak, karena film ini dibuat dari beberapa gambar gerak yang di buat sendiri oleh manusia sehingga ceritanya menjadi lucu dan unik.

D. Pesan


Film sudah tentu memiliki tema dan di dalam tema tersebut pasti terselip pesan, pesan itulah yang nantinya akan dicerna oleh penonton. Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan seharusnya mempunyai inti pesan (tema) sebagai pengarah dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. (Widjaja, 1997). Pesan (message) terdiri dari dua aspek, yakni isi atau isi pesan (the content of message) dan lambang (symbol) untuk mengekspresikannya. Lambang utama dalam film disini berupa gambar dan suara. (Effendy, 2000:313). Pada dasarnya komunikasi itu mempunyai 4 fungsi, yaitu: menginformasikan, mendidik, menghibur, mempengaruhi. Sama seperti halnya sebuah film, di dalam film sebenarnya tidak hanya berfungsi sebagai hiburan belaka, akan tetapi didalamnya menyimpan makna atau pesan bahkan informasi yang terkandung serta ingin disampaikan kepada komunikan atau khalayak.
1. Fungsi Informasi

Suatu film biasanya mengandung unsur informasi didalamnya, dimana informasi tersebut sangat di butuhkan oleh khalayak.
2. Fungsi Mendidik

Apabila didalam film memuat suatu pesan yang mendidik tentunya akan sangat berguna bagi kita sebagai khalayak untuk menjadi lebih baik lagi, sehingga bisa dijadikan pelajaran untuk kehidupan yang akan datang.
3. Fungsi Menghibur

Hiburan disini dimaksudkan untuk melemaskan ketegangan pikiran kita, misalnya didalam film tersebut diselingi dengan komedi setelah suatu adegan yang menegangkan atau menyedihkan. Sehingga kita bias tertawa karena terhibur.
4. Fungsi Mempengaruhi

Mempengaruhi disini jika film itu memiliki pesan yang sangat kuat maka secara tidak langsung kita sebagai khalayak akan terpengaruh oleh pesan yang ada pada film tersebut, baik itu pesan yang mendidik atau bahkan malah pesan yang merusak.

Pesan dalam sebuah film sangat bermacam-macam tergantung pada komunikan tentang hal apa yang ingi disampaikan, bisa berupa kritikan, propaganda, pesan tentang moral, social, agama dan masih banyak lagi, sehingga bisa saja pesan itu mempengaruhi dan mengubah suatu khalayak untuk menjadi lebih baik lagi. Pesan merupakan hal yang paling penting selain komunikator dan komunikan, tanpa adanya pesan atau informasi yang akan disampaikan maka suatu komunikasi tersebut tidak akan mampu berjalan dengan semestinya. Dengan kata lain suatu komunikasi itu akan terhambat karena tidak adanya pesan yang akan disampaikan.
Apabila di dalam film tersebut mengangkat tentang suatu pesan yang baik mengenai sosial maka pesan tersebut tidak akan mudah dilupakan oleh khalayak, dalam film “Freedon Writers” misalnya. Disini terdapat banyak sekali pesan yang yang ingin disampaikan komunikator kepada komunikan atau khalayak, karena didalamnya memuat pesan tentang anti rasisme. Tentunya hal ini bisa menjadi referensi atau gambaran untuk kehidupan manusia di masa yang akan datang, bahwa rasisme harus dihapuskan dari dunia ini, kapan saja dan dimana saja agar manusia dapat hidup damai didalam perbedaan ras. Kemudian tidak ada lagi anggapan tentang salah satu ras yang harus di unggulkan di masa yang akan datang. Hal ini bisa benar-benar terjadi apabila komunikator tersebut benar- pandai mengolah pesan dan pesan itu bisa dipertanggungjawabkan.



BAB III

METODE PENELITIAN



A. Jenis Penelitian


Metode yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah analisis isi. Alasan menggunakan analisis isi karena akan memperoleh suatu hasil atau pemahaman terhadap berbagai isi pesan komunikasi yang disampaikan oleh media massa secara objektif dan sistematis. Seperti yang di jelaskan dalam (Nanang Martono, 2010:19), Analisi isi (content analysis) merupakan tipe penelitian yang memanfaatkan informasi atau isi yang tertulis sebagai sinbol- simbol material. Sumber data dalam penelitian ini dapat berupa majalah, Koran, iklan, televisi atau media yang lain.
Analisis isi dikategorikan dalam tipe penelitian non reaktif (nonreactive research) dikarenakan objek yang menjadi sasaran penelitian tidak member reaksi atau pengaruh terhadap peneliti. Dengan menggunakan analisis isi peneliti dapat membandingkan berbagai simbol di dalam media atau teks tertentu dan menganalisanyanya dengan teknik kuantitatif. Menurut Barelson, analisis isi merupakan teknik penelitian secara objektif, sistematis dan menggambarkan secara kuantitatif mengenai isi media komunikasi yang bersifat manifes. (Martono, 2010:19).

B. Ruang Lingkup Penelitian


Yang menjadi ruang lingkup penelitian ini adalah film “Freedom Writers” yang difokuskan pada tiap scene yang berupa adegan dimana setiap scene akan diambil dan kemudian dimasukan kedalm pesan moral berdasarkan kategorisasi yang ada. Kategorisasi pesan anti rasisme dalam film ini adalah semua hal yang menyangkut tentang Anti Rasisme dari, kebersamaan, dan tindakan.

C. Unit Analisis

 

Unit analisis yang digunakan adalah adegan dalam scene yang terdapat pada Film “Freedom Writers” berupa adegan yang mengandung pesan anti rasisme. Yang dibagi menjadi 3 kategorisasi, yaitu pesan anti rasisme melalui pendidikan, pesan anti rasisme melalui kebersamaan antar ras, dan sifat anti rasisme.

D. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi yang merupakan teknik pengumpulan data dengan menelaah catatan-catatan, informasi sebagai sumber data. Kemudian pada praktiknya, untuk penelitian ini dilakukan pemutaran film “Freedom Writers”.








BAB IV

HASIL PEMBAHASAN


A.    Identitas Film

Judul Film                   : Freedom Writers
Sutradara                     : Richard La Gravenese
Produksi                      : Paramount Pictures, Tahun 2007
Penulis Naskah            : Richard La Gravenese
Pemeran                      : Hillary Swank, Dolores Umbridge, Patrick Demsey, dll.

B.     Sinopsis Film Freddom Writer

Freedom Writers merupakan film yang diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang guru di wilayah New Port Beach, Long Beach, California, Amerika Serikat dalam membangkitkan kembali semangat anak-anak didiknya untuk belajar. Dikisahkan, Erin Gruwel (diperankan oleh Hillary Swank), seorang wanita yang berpendidikan tinggi, datang ke Woodrow Wilson High School sebagai guru Bahasa Inggris di kelas 203, di mana terdapat beragam gank ras yang selalu mengelompok, seperti ras kamboja, kulit hitam, latin, dan kulit putih, dan pada saat itu sedang hangat diperbincangkan tentang isu rasisme.
Pada awal kedatangan Erin, para murid sama sekali tidak tertarik dengan kehadirannya. Kabanyakan dari mereka tidak senang  terhadap orang berkulit putih. Mereka menganggap bahwa Erin tidak mengerti apapun tentang kehidupan mereka yang keras, kehidupan yang selalu berada di bawah bayang-bayang perang dan kekerasan. Bagi mereka, kehidupan adalah bagaimana caranya mereka selamat dari kekerasan.
Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Erin, baik dari pihak sekolah yang rasis, hingga pihak suami dan ayahnya. Diskriminasi yang dilakukan oleh pihak sekolah, seperti pemisahan kelas, serta perbedaan fasilitas yang terlihat antara ras kulit putih dan ras di luar itu membuat Erin miris. Agar diterima oleh anak-anak didiknya, Erin mencari cara untuk melakukan pendekatan dan metode pengajaran yang tepat. Namun, sejak Erin disibukkan dengan pendekatan terhadap anak-anak didiknya dan bekerja paruh waktu, timbul masalah baru, ia diceraikan oleh suaminya. Hingga pada akhirnya, ayahnya yang semula tidak mendukung, berbalik mendukung pekerjaan Erin.
Erin paham dengan kondisi anak-anak didiknya yang selalu berkelompok dengan ras mereka masing-masing. Akhirnya, ia menemukan cara untuk “menjangkau” kehidupan mereka dengan memberikan mereka buku, dan meminta mereka mengisinya dengan jurnal harian. Bahkan, ketika sekolah mendiskriminasikan fasilitas buku, Erin memberikan buku baru tentang kehidupan gank yang lekat dengan keseharian mereka. Sejak membaca jurnal harian yang bercerita tentang kehidupan mereka yang keras, Erin semakin bersemangat untuk mengubah kehidupan anak-anak didiknya, serta menghapus batas tak terlihat yang secara budaya memisahkan mereka dengan cara-cara yang mengagumkan. Untuk menambah motivasi belajar Erin mendatangkan Mrs. Miep Gies, seorang wanita penolong Anne Frank, anak Yahudi yang hidup pada zaman Hitler dan holocaust-nya. Ia mendatangkan Mrs. Miep Gies untuk berbagi cerita kepada anak-anak didiknya tentang sebuah bencana yang terjadi karena rasisme, serta usaha-usaha Erin lainnya yang mendapat tantangan dari pihak-pihak sekolah.
Akhirnya, keteguhan Erin dalam mendidik mereka berbuah hasil. Anak-anak tersebut, yang semula benci satu sama lain Karena perbedaan ras, akhirnya menjadi berteman dan menghapus sekat-sekat ras di antara mereka. Bahkan, ketika ada kasus penembakan yang menimpa seorang kawan anak didiknya, ia mengajarkan tentang arti kejujuran. Jurnal harian yang telah mereka tulis, diketik dan dikumpulkan menjadi satu buku. Erin menamai kumpulan buku harian murid-muridnya dengan nama The Freedom Writers Diary.

C.    Inovasi Pendidikan dalam Film Freddom Writers

1.      Karakteristik Inovasi
Menurut Everett M. Rogers, 1993: 14-16 (dalam Udin Syaefudin, 2008: 21-22) mengemukakan karakteristik inovasi yang dapat mempengaruhi cepat atau lambatnya penerimaan inovasi adalah keuntungan relatif, kompatibel, kompleksitas, triabilitas, dan dapat diamati.
Keuntungan relatif, yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Dalam film Freedom Writers ini inovasi yang dilakukan oleh Erin Gruwell memberikan keuntungan relatif yaitu, nilai siswa-siswa kelas 203 Woodrow Wilson High School yang semula mendapatkan nilai F, pada akhirnya meningkat nilai para siswanya menjadi B, dan hal terpenting dari inovasi yang dilakukan oleh Erin Gruwell menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan  memberi kepuasan bagi para siswanya.
Kompatibel (compatibility) ialah tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai (values), pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. Inovasi yang dilakukan Erin Gruwell disesuaikan dengan pengalaman yang dialami oleh para siswanya, yaitu tentang kekerasan rasis. Dalam proses pembelajarannya Erin memberiakn inovasi, misalnya memutarkan video tentang kekerasan dan berkunjung ke museum dengan tujuan siswanya faham bagaimana dampak dari kekerasan.
Kompleksitas (complexity) ialah tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang mudah dimengerti dan mudah digunakan oleh penerima akan cepat tersebar, sedangkan inovasi yang sukar dimengerti atau sukar digunakan oleh penerima akanlambat proses penyebarannya. Inovasi yang dilakukan oleh Erin sangat efektif diberikan pada siswanya, karena inovasinya selalu mengaitkan dengan penyelesaian masalah kekerasan rasis, hal ini mudah diterima oleh paras iswanya karena sesaui dengan kehidupan para siswanya tersebut.
Trialabilitas (trialability) ialah dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh penerima. Suatu inovasi yang dicoba akan cepat diterima oleh masyarakat daripada inovasi yang tidal dicoba lebih dahulu. Saat Erin memberikan buku mengenai kekerasan rasis dan siswanya tertarik, maka pada semester musim panas Erin membekali siswanya beberapa buku untuk dibacanya dengan harapan memberikan dampak positif bagi siswanya.
Dapat diamati (observability) ialah mudah tidaknya diamati suatu hasil inovasi. Hasil inovasi yang dilakukan Erin terlihat dari suasana kelas yang tidak berkelompok dengan rasnya saja, namun tidak lagi memandang ras dan saling bekerja sama.

2.      Proses Inovasi
Pada waktu awal mengajar sebagai guru bahasa Inggris di Wilson High School, yang pertama kali Erin lakukan adalah mengobservasi ruang kelas Brian Gilbert seorang guru yang mengajar bahasa Inggris junior. Ia melihat bahwa ruang kelas junior tersebut sangat rapi, kursi-kursinya bagus. Ketika Erin masuk ruang 203 tempat ia mengajar, Erin melihat bahwa bangku-bangku siswanya sudah tua, banyak sekali coretan di mejanya, tirai jendela juga sudah ada yang rusak. Jauh sekali dengan ruang kelas junior. Setelah murid-muridnya masuk kelas, Erin melihat bahwa murid-muridnya berkumpul sesuai dengan ras mereka masing-masing. Orang negro berkumpul dengan orang negro, orang Kamboja berkumpul dengan orang  Kamboja, dan begitu pula ras yang lain berkumpul sesuai dengan warna kulitnya. Saat pertama kali mengajar itu pula Erin melihat perkelahian antara Jamal dan Andre Brion. Erin sangat kaget melihat peristiwa itu karena itu di luar dugaannya, tapi Erin tidak menyerah setelah apa yang ia alami. Erin mengobservasi bagaimana situasi dan kondisi muridnya. Erin berusaha mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi di antara murid-muridnya tersebut agar ia bisa memperlakukan mereka dengan tepat sehingga murid-muridnya yang nakal dan acuh dengan pendidikan itu bisa bersemangat bersekolah.

Hari kedua mengajar, Erin meredakan pertengkaran antara Jamal dan Gloria karena Jamal usil mengambil tas Gloria. Erin juga melihat kerusuhan di sekolah tempat ia mengajar. Ia melihat perkelahian antar suku atau ras. Antara Paco yang orang Latin dengan Grant Rice yang orang berkulit hitam, antara Eva Benita yang orang Latin dan Cindy Nigor yang orang Kamboja. Pada saat kerusuhan itu juga Erin melihat bahwa salah satu muridnya ada yang membawa pistol. Erin mengobservasi lagi bagaimana perkelahian antar ras itu terjadi.
Hari-hari berikutnya, Erin menampilkan sesuatu yang berbeda yaitu melakukan berbagai permainan agar sausana pembelajaran lebih menyenangkan, melihat video tentang kekerasan melakukan kunjungan studi ke museum, dan mendatangkan Mrs. Miep Giep sebagai pembicara untuk menjelaskan kekerasan yang terjadi pada kekuasaan Hitler yang dituliskan dalam buku berjudul “The Diary of Anne Frank”.

Erin mampu melakukan proses inovasi denagn baik. Siswa-siswa yang awalnya tidak mau menerima Erin dan tidak mau belajar dan sulit untuk diatur karena selalu berkelompok dengan rasnya pada akhirnya siswanya menerima Erin dan mulai tertarik dengan kegiatan belajar mengajar.
3.   Strategi Inovasi
Udin Syaefudin (2008: 63) menyebutkan ada empat macam strategi inovasi pendidikan, yaitu: strategi fasilitatif, strategi pendidikan, strategi bujukan, dan strategi paksaan. Strategi yang dilakukan Erin Gruwell selama ia mengajar sebagi guru bahasa Inggris di Woodrow Wilson High School diantaranya sebagai berikut.
a.       Strategi Fasilitatif (Facilitative Strategies) Pelaksanaan strategi fasilitatif dalam pembelajaran yang dilakukan Erin bertujuan untuk menyediakan fasilitas yang diperlukan siswanya dengan maksud agar pembelajaran berjalan dengan mudah dan lancar.
Hal ini dilakukan dengan cara menyediakan buku-buku yang dijadikan referensi dalam pembelajaran, meskipun ia harus bekerja paruh waktu untu mengumpulkan biaya untuk membeli buku tersebut.
b.      Strategi Pendidikan (Re-Educatif Strategies)
Pelaksanaan strategi pendidikan dengan cara antara lain sebagai berikut.
1)     Memahami karakteristik peserta didik.
2)     Memilih metode pembelajaran yang tepat.
3)     Memberikan motivasi kepada siswa.
4)     Melakukan pendekatan, baik secara individu maupun kelompok kepada para siswanya.
c.       Strategi Bujukan (Persuative Strategies)
Erin selalu memberi bujukan pada siswanya, misalnya ketika kakak Andre Dion masuk penjara, dia menjadi putus asa dan menilai dirinya sendiri dengan nilai F. Erin membujuk Andre agar dia bangkit lagi dan dia ingin melihat Andre akan lulus dengan nilai yang baik.
d.      Strategi Paksaan (Power Strategies)
Erin memaksa anak didiknya untuk membaca buku “The Diary of Anne Frank” agar mereka tahu apa yang terkandung dalam buku tersebut.

D.    Analisis Film Freedom Writers pada Masing-masing Bagian

Inovasi di bidang pendidikan adalah usaha mengadakan perubahan dengan tujuan untuk memperoleh hal yang lebih baik dalam bidang pendidikan, menurut Udin Syaefudin, (2008: 8). Terkait dengan fim Freedom Writers, di bawah ini akan dikemukakan beberapa inovasi pendidikan yang dilakukan oleh Erin Gruwell sebagai seorang guru bahasa Inggris di Woodrow Wilson High School, Long Beach, California, Amerika Serikat di kelas 203.
1.      Bertukar Tempat Duduk
Melakukan kegiatan pembelajaran dengan musik dan puisi kemudian memindahkan tempat duduk siswa  dengan perbatasan baru  dengan tujuan untuk mengurangi kesenjangan antar kelompok dan lebih mengenal satu sama lain. (disc I ’00.18.57 s.d. ‘00.21.50).

2.      Dialog Bersama
Pada saat Tito mengolok-olok Jamal yang berkulit hitam dengan menggambar karikatur orang negro yang berbibir tebal. Saat itulah Erin ingat bahwa kejadian ini pernah terjadi yaitu pada jaman Hitler, orang-orang membuat gambar karikatur orang Yahudi yang berhidung sangat mancung dan besar. Erin mengajak dialog murid-muridnya tentang holocaust dan geng paling bersejarah di dunia. Erin berusaha menyadarkan mereka. Perhatian para siswa mulai terpusat dan hal tersebut sangat menarik siswanya karena sesuai dengan kehidupan mereka . (disc I ’00.26.17 s.d. ’00.28.58).

3.      Line Game (permainan garis)
Erin mengajak murid-muridnya untuk bermain permainan garis yaitu dibuat garis dengan menggunakan isolasi, lalu Erin akan memberikan sejumlah pertanyaan. Jika pertanyaan itu cocok dengan mereka, mereka harus maju ke garis berhadap-hadapan dengan teman-temannya. Lalu mundur lagi untuk pertanyaan berikutnya. Tujuan dari permainan ini adalah agar para murid saling mengenal, memandang satu sama lain, mengakrabkan mereka. (disc I ‘00.39.30 s.d. ‘00.42.15).

4.      Buku Jurnal Harian atau Catatan Harian
Erin memberi siswanya sebuah buku untuk diisi dengan lagu, puisi, hal baik, maupun hal buruk. Apapun yang ingin mereka ungkapan ditulis dalam buku tersebut. Pada intinya, Erin memerintahkan siswanya agar menulis buku harian. Hal ini merupakan tindakan yang dilakukan Erin untuk lebih mengenal siswa-siswanya dan dapat memberi tindakan lanjut terhadap para siswanya. (disc I ‘00.43.36  s.d. ‘00.45.15)

5.      Memberi Buku Bacaan tentang Geng dan Kekerasan
Setelah membaca semua buku harian para siswanya yang rata-rata menceritakan tentang geng dan kekerasan, timbul ide Erin untuk memberikan mereka buku bacaan tentang anggota geng dan kekerasan. Erin memberikan buku yang berjudul Burango Street, dan para siswa tertarik untuk membaca buku tersebut. (disc I ‘00.53.34 s.d. ‘00.53.59).

6.      Study Tour ke Museum of Tolerance
Setelah mengamati siswa-siswanya Erin berpikir bahwa siswa-siswanya tersebut haus akan ilmu pengetahuan yang ada di dunia luar. Oleh karena itu, Erin meminta ijin untuk mengajak para muridnya tour keliling museum. Erin ingin menyadarkan mereka bahwa apa yang terjadi diantara mereka belum sepadan dengan penderitaan yang dialami oleh orang yang hidup pada jaman kekuasaan Hitler seperti Anne Frank. Tour keliling museum ini memberikan dampak positif bagi para siswa Erin. Setelah tour keliling museum, Erin mempertemukan para siswanya dengan korban holocaust. Semua yang dilakukan Erin ini tidak akan dilupakan oleh para muridnya. Tujuan Erin melakukan ini adalah agar muridnya bisa bersatu dan lulus dengan nilai yang memuaskan. Seusai Tour dan berbincang-bincang dengan korban holocaust, perilaku murid Erin sedikit demi sedikit berubah. Mereka menjadi akrab satu sama lain. Seperti Marcus yang berkulit hitam dan Ben yang berkulit putih. (disc II ‘00.00.19 s.d. ‘00.03.56).

7.      Toast for Change
Pada awal memasuki semester baru, siswa diajak untuk menceritakan pengalamnnya, dan melakukan perubahan terhadap diri masing-masing kemudian bersulang atas perubahan yang akan mereka lakukan. Setelah mereka bersulang dilanjutkan dengan mengambil bingkisan yang berisi empat buku yang akan dibaca para siswa untuk satu semester ke depan di musim panas, yang salah satu dari buku itu berjudul “The Diary of Anne Frank”. Pada waktu memberikan buku itu, Erin memberikan sedikit pesan atau nasihat untuk para siswanya bahwa ada harapan yang menanti di masa depan dan jangan menyerah dengan kondisi yang terjadi. (disc II ‘00.06.29 s.d. ‘00.07.10).

8.      Taste for Change dan Concert for Change
Setelah semua siswa membaca buku berjudul “The Diary of Anne Frank”, siswa diperintahkan menulis surat untuk Miep Gies yang merupakan orang yang menolong Anne Frank. Siswa tertarik dan mereka bekerjasama mengumpulkan dana untuk mengundang Miep Giess ke sekolahnya untuk menceritakan kejadian yang terjadi pada jaman kekuasaan Hitler tersebut. (disc II ‘00.17.17 s.d. ‘00.17.55).

9.      Melihat Video Freedom Ride
Siswa Melihat video freedom ride yang berkisah tentang seorang kulit putih yang rela menyelamatkan ras kulit hitam meskipun harus merelakan dirinya disiksa sampai hampir meninggal. Dengan melihat video ini diharapkan siswa saling menghargai satu sama lain. (disc II ‘00.21.10 s.d. ‘00.21.50).

10.  Kumpulan Buku Harian “The Freedom Writers Diary”
Buku harian yang telah mereka tulis, diketik dan dikumpulkan menjadi satu buku. Erin menamai kumpulan buku harian siswa-siswanya dengan nama The Freedom Writers Diary. Pada akhirnya mereka menjadi kelas yang kompak dan para siswanya saling mengenal satu sama lain. Semua yang telah dilakukan Erin cukup mengubah perilaku siswa-siswanya. (disc II ‘00.32.28 s.d. ‘00.33.07).

E.     Hal-hal Positif yang Dapat Diambil dari Film Freedom Writers

Film Freedom Writers ini sangat cocok dijadikan sumber rujukan untuk menambah wawasan tentang dunia pendidikan, baik untuk para pendidik maupun peserta didiknya. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari film ini, terutama bagaiman tokoh Erin Gruwell sebagai seorang guru bahasa Inggris yang harus berjuang keras balam memberikan pembelajaran kepada siswanya, dimana mereka yang terbiasa dengan kekerasan dan selalu hidup berkelompok dengan masing-masing rasnya.
Beberapa hal yang dapat diambil dari film Freedom Writers.
a.       Sebagai seorang guru, harus mampu memahami karakteristik peserta didik sebelum berlangsung kegiatan pembelajaran. Dengan mengenali karakteristik peserta didik, guru dapat menentukan metode atau cara yang tepat untuk diterapkan dalam pembelajaran agar dapat tercapai tujuan yang diharapkan.
b.      Sebagai seorang guru, diperlukan adanya tekat dan semangat yang tinggi untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Guru tidak boleh mudah putus asa ketika satu cara yang telah diterapkan mengalami kegagalan, guru harus pandai dan terampil dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
c.       Berbagai cara dapat digunakan guru untuk menarik perhatian siswa-siswanya, diantaranya dengan memberikan motivasi, menciptakan permainan yang dapat membuat pembelajaran lebih menyenangkan.


F. Pesan Anti Rasisme Dalam Film

Film merupakan media yang sangat menghibur bagi khalayak, selain itu dalam film juga terdapat berbagai unsur. Salah satunya adanya unsure pesan, dengan adanya pesan ini maka film akan semakin mudah dipahami oleh penontonnya. Pesan Anti Rasisme dimaksudkan disini merupakan pesan yang terkandung pada beberapa scene dalam film Freedom Writers, karena peneliti menilai adanya pesan anti rasisme yang ada dalam film tersebut. Pesan anti rasisme merupakan suatu sikap dan tindakan yang menentang dan menolak rasisme, yakni stereotip buruk tentang ras lain. Karena dengan adanya rasisme ini akan sangat membahayakan diri sendiri dan orang lain, rasisme sendiri berpotensi tumbuh dan berkembang di benak siapapun. Inilah yang menjadi masalah sosial dimanapun hingga sekarang.
Sikap individu terhadap lingkungan sosialnya dapat berupa penolakan, penerimaan, dan sikap netral terhadap lingkungan. Individu menolak lingkungan bila ia merasakan tidak adanya kesesuaian dengan keadaan lingkungannya. Individu dapat memberikan bentuk pada lingkungan sesuai dengan apa yang ia harapkan asalkan itu berdampak positif. Contohnya dalam kehidupan bermasyarakat, kadang kala orang tidak sesuai atau tidak cocok dengan norma-norma yang ada dalam lingkungannya, maka seseorang dapat memberikan pengaruh pada lingkungan tersebut. Namun hal tersebut bukanlah hal yang mudah dan salah satu faktor yang akan ikut menentukan berhasil tidaknya usaha itu adalah status atau posisi individu yang bersangkutan.
Individu menerima lingkungan bila keadaan lingkungan sesuai atau cocok dengan keadaan individu. Dengan demikian ia akan menerima keadaan lingkungan tersebut. Sedangkan individu akan bersikap netral terhadap lingkungannya apabila ia tidak cocok dengan lingkungannya namun tidak mengambil langkah bagaimana semestinya. Individu bersikap diam dan berpendapat biarlah lingkungan yang dalam keadaan tersebut.
Dalam film Freedom Writers ini digambarkan 4 macam ras, yang sesuai dengan apa yang di jelaskan menurut Thomas Well dalam Alo Liliweri Prasangka dan Konflik. Kempat ras itu meliputi:
1. Warga kulit putih atau White Anglo Saxon Protestant

Warga kulit putih atau White Anglo Saxon Protestant adalah sebuah tradisi atau bahkan bisa disebut ideologi tentang siapa yang seharusnya menjadi penguasa Amerika Serikat. Pada awalnya tradisi ini diperkenalkan oleh orang-orang Inggris yang merasa dirinya superior. Karena merekalah yang pertama masuk ke Amerika Serikat dan Membangun Amerika dengan pengetahuan dan ketrampilan tertentu dengan orientasi kerja dalam berbagai bidang ekonomi dan politik. Keyakinan tersebut juga didorong oleh moralitas agama protestan yang diasumsikan sebagai agama yang paling kuat mendorong orang bekerja lebih produktif.
Warga kulit putih cenderung tidak disukai atau dianggap tidak baik oleh berbagai ras yang ada karena perbuatan mereka pada jaman dahulu hingga sekarang. Menurut Killian warga kulit hitam diketahui memiliki prasangka buruk kepada warga kulit putih dikarenakan perlakuan warga kulit putih pada jaman perbudakan Amerika Selatan terhadap warga kulit hitam. Selain itu ras kulit putih di awal kedatangannya melakukan tindakan yang biadab dengan melakukan pembantaian terhadarp warga asli Amerika yakni Suku Indian.
2  Warga kulit hitam atau Africans-Americans

Warga kulit hitam adalah kelompok etnik pertama dari benua Afrika yang dijadikan budak oleh orang-orang Spanyol dalam eksplorasi ke dunia baru Amerika, sejak tahun 1619 sampai akhir abad ke-18. Jumlah warga kulit hitam di AS diperkirakan 10 juta orang yang tinggal di bagian barat benua masalah umum yang dihadapi warga kulit hitam adalah pendapatan mereka yang rendah, kemiskinan, dan diskriminasi oleh orang-orang kulit putih di berbagai sendi kehidupan sosial.
Warga kulit hitam seringkali tidak disukai atau dianggap negatif oleh warga kulit putih karena mereka dulu menjadi budak warga kulit putih. namun seiring dengan kemajuan jaman, keberadaan warga kulit hitam juga terus maju. Dengan munculnya berbagai pertentangan, serta pembuktian. Akhirnya warga kulit hitam menjadi ras menampik stereotip miring tentang mereka. Hal tersebut dianggap sebagai keaadaan yang mengancam warga kulit putih.
3. Warga Asia yang tinggal di Amerika atau Asian-Americans

Adalah warga Asia yang tinggal di Amerika atau yang biasa disebut Asian-Americans. Mereka adalah orang Amerika dengan subkultur Asia. Jumlah waraga Asian-Americans adalah sekitar 4% dari warga Amerika. Mayoritas dari mereka berasal dari Cina dan Jepang, di samping imigran dari Filipina, Korea, Kamboja dan yang terakhir dari Vietnam.
Warga Amerika-Asia kurang disukai keberadaannya, karena sejak pertama kali datang ke Amerika kedatangan mereka dianggap merusak standar buruh yang ada. Warga dari ras lain sering menganggap warga Amerika-Asia sebagai orang-orang yang serakah. Bahkan di Amerika sempat memiliki peraturan yang melarang kedatangan warga Asia ke Amerika. Selain itu warga Asia adalah sesosok warga yang rajin, ulet dan pekerja keras. Sehingga banyak diantara mereka yang menjadi kaya dan menguasai beberapa sector perekonomian, hal inilah yang menjadikan warga Asia disisihkan di Amerika.
4. Warga Hispanic-Americans

Merupakan warga Meksiko, Puerto Rico dan Cuba. Jumlah keturunan Amerika Hispanik diperkirakan mencapai 12% dari penduduk AS. Prosentase ini cenderung meningkat karena imigrasi dan tingkat kelahiran yang tinggi.
Warga Amerika-Hispanik dimusuhi keberadaanya oleh berbagai ras di Amerika karena keberadaan mereka yang seringkali menyebabkan keresahan karena tindakan anarkis yang mereka lakukan pada masa lalu di Los Angeles. Serta berbagai macam tindak pidana, seperti penjualan obat- obatan terlarang, imigran gelap.
Keempat ras tadi digambarkan saling bertindak rasis dalam film Freedom Writers ini, hingga muncul seorang sosok guru yang bersikap netral. Ia bernama Erin Gruwell, seorang guru dari warga kulit putih yang memiliki pandangan berbeda. Dimana orang-orang disekitarnya mendukung dan cenderung bersikap rasis terhadap ras lain, namun tidak dengan Erin. Ia lebih memandang semua manusia sama dan berhak mendapat perlakuan yang sama, tidak dipandang dari warna kulit ataupun ras mereka. Sikap dan tindakan anti rasisme nya inilah yang nantinya akan di turunkan kepada para murid dan orang lain.
Peneliti melihat adanya pesan anti rasisme yang digambarkan dalam beberapa scene, yakni melalui pendidikan, setelah mendapat pendidikan dari berbagai cara akhirnya para murid mulai mengubah sikapnya sedikit demi sedikit. Mengubah tindakan serta pemikiran mereka yang sebelumnya saling acuh dengan teman mereka yang berbeda ras dengan dirinya, kemudian menjadi akrab dan bisa menerima perbedaan diantara mereka.


Film sudah tentu memiliki tema dan di dalam tema tersebut pasti terselip pesan, pesan itulah yang nantinya akan dicerna oleh penonton. Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan merupakan sesuatu yang dihayati oleh komunikan melalui komunikator, diterima dalam artian dijadikan milik bersama di antarany keduanya. Dengan tujuan kesejahteraan bersama dalam kehidupan yang lebih baik serta bisa dipertanggung jawabkan.
Berlo menyebutkan bahwa proses meyakini pesan merupakan proses menghubungkan antara harapan dan manfaat. Sesuatu yang diusulkan dapat diterima apabila komunikan ada harapan memperoleh manfaat atau dalam istilah aslinya Expectation of reward. Manfaat tersebut baik dalam arti positif maupun negative. Dalam arti positif ialah memperoleh sesuatu, sedangkan dalam arti negative kemungkinan untuk menghindari sesuatu (Astrid, 1977:11)










BAB V

PENUTUP


Film merupakan media yang paling mudah dan cepat jika digunakan untuk menyampaikan suatu pesan atau bahkan informasi bagi khalayak. Karena film juga merupakan media yang sangat menarik dan menghibur, serta mudah dipahami oleh kita semua.
Film ini mengusung tema pendidikan, yang menggambarkan kisah nyata seorang guru yang mendidik dan memperhatikan muridnya melebihi guru lainnya. Bahkan ia (Erin Gruwell) rela mengkorbankan rumah tangganya, demi kepentingan orang banyak. Seorang guru yang inspiratif dan patut ditiru dikalangan pendidikan dan kalangan umum. Ia berusaha menghapuskan rasisme dari benak para murid-muridnya dengan berbagai cara, agar nantinya para murid bisa melakukan sesuatu yang berguna daripada saling bunuh antar ras.
Rasisme bukanlah perkara yang sepele, “Rasisme” berarti suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu, bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur yang lainnya. Sedangkan pengertian “Ras” itu sendiri yaitu golongan bangsa berdasarkan ciri- ciri fisik, seperti warna kulit, warna rambut, ukuran tubuh dan warna mata.


 


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, I. S. (2013). Pendidikan Multikultural Dalam Film Freedom Writers. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.Al-Yamin, S. (2012). Pendidikan Anti Kekerasan. http://www.riaupos.co/1389-opini-pendidikan-anti-kekerasan.html. 30 Agustus 2018.Amini. (2015). Profesi Keguruan. Medan : Perdana Publishing.

Pratista, H. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.
Sumarno, M. (1996. Dasar-dasar Apresiasi Film. Jakarta: PT.Grasindo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MINIRISET ESTER MALAU REGULER D 2019

    Menganalisis Film Freedom Writer Sebagai   Apresiasi Karya Sastra Untuk Meningkatan Ketera...